Statistik Gender Tematik: Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Indonesia

Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Upaya perlindungan terhadap perempuan (termasuk anak) dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dalam RPJMN 2015-2019, pemerintah melaksanakan upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak dari tindak kekerasan, dilakukan melalui pencegahan, pelayanan, dan pemberdayaan yang diperkuat dengan program nawacita.

Upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan perlu melibatkan masyarakat, dalam bentuk kemitraan dan kerjasama antara unsur pemerintah dengan kementerian/lembaga terkait dan pemerintahan daerah, termasuk lembaga masyarakat dan swasta, serta mengacu pada koridor pembagian kewenangan antara pusat dan daerah.

Sejauh ini komitmen bersama untuk mewujudkan Three Ends dirasakan semangatnya di seluruh pelosok Indonesia. Berbagai program diselaraskan untuk melaksanakan tiga (3) Akhiri, yakni: 1) Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, 2) Akhiri Perdagangan Manusia, dan 3) Akhiri ketidakadilan akses ekonomi untuk perempuan. Selain menjalankan berbagai program pendukung, tentunya diperlukan data dan informasi sebagai alat untuk mengukur capaian hasil program three ends, sebagai dasar evaluasi dan perencanaan pelaksanaan program lanjutan. Penyusunan publikasi thematic yang dilakukan tahun 2016: Potret Ketimpangan Gender Bidang Ekonomi, selanjutnya tahun 2017 mengambil thema: Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, hal ini dilakukan untuk menjawab program three ends yang pertama.

Publikasi ini sangat istimewa, karena atas kerjasama Kemen PPPA dan BPS telah menyelesaikan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) pada tahun 2016. Selain itu ditahun yang sama Kemen PPPA, mulai membangun dan merintis aplikasi pencatatan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dinamakan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) yang diberlakukan di Unit Layanan Perempuan dan Anak seluruh Indonesia. Dengan demikian publikasi ini berisikan data survei (SPHPN 2016) dan regristasi (Simfoni PPA) yang dikelola oleh Kemen PPPA.

Baca dan Unduh Statistik Gender Tematik: Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Indonesia di e-Library Promkes.net

Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga Remaja

Penyempurnaan buku Pedoman ini dilakukan karena tuntutan seperti yang diamanatkan dalam UndangUndang Nomor 52 Tahun 2009 tentang pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana, dan karena penyesuaian Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014, program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) telah kita sepakati untuk dikembangkan menjadi program Generasi Berencana dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

Untuk mewujudkan Generasi Berencana di Indonesia, program GenRe dihadapkan dengan lingkungan strategik, yang berkembang dengan sangat pesat dan cepat. Salah satu diantaranya adalah globalisasi informasi yang kemudian tanpa disadari, telah meliberalisasi dan merubah norma, etika dan moralitas agama, menjadi nilai-nilai kehidupan sekuler.

Dalam kehidupan remaja perubahan nilai ini, terlihat dari perilaku hidup remaja yang tidak sehat (unhealthy life behaviors). Apabila perilaku remaja yang tidak sehat ini terus berlangsung, tentu akan mengganggu tugastugas pertumbuhan dan perkembangan kehidupan remaja, baik secara individual maupun sosial. Program BKR telah dibentuk di beberapa provinsi, namun akhir-akhir ini mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan pendataan keluarga BKKBN tahun 2011, terdapat 5.853.561 keluarga yang memiliki remaja usia 10 – 24 tahun dan tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah yang banyak itulah yang menjadi sasaran program BKR. Karena itu, saya menyambut baik diterbitkannya Pedoman Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang telah mengalami penyempurnaan dari edisi sebelumnya. Pedoman ini sangat penting, karena menjadi Pedoman dan petunjuk dalam pembentukan, pengembangan dan pembinaan kelompok BKR di berbagai tingkatan, dan dapat dimanfaatkan oleh semua pihak yang terlibat langsung dalam Pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR).