Melawan Mager Cegah Penyakit Jantung

Penyakit Jantung Koroner (PJK) menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni 12,9% (Survei Sample Regristration System (SRS), 2014). PJK paling banyak terjadi pada kelompok umur 65-74 tahun (3,6%) diikuti kelompok umur 75 tahun ke atas (3,2%), kelompok umur 55-64 tahun (2,1%) dan kelompok umur 35-44 tahun (1,3%) (Riset Kesehatan Dasar, 2013).

Salah satu cara mencegah dan mengendalikan Penyakit Jantung Koroner (PJK) adapah bergerak aktif dengan aman. Malas gerak menjadi salah satu faktor risiko berbagai jenis penyakit kardiovaskular seperti PJK ini.

Promkes.net yakin jika upaya pencegahan lebih murah dibanding pengobatan penyakit jantung. Sekitar 51,99% atau setara 6,67 triliun dari pembiayaan @bpjskesehatan_ri tersedot oleh penyakit ini (@detikcom).

Kami yang tergabung dalam gerakan #MelawanMager mengajak #SobatSehat dari berbagai penjuru nusantara dan WNI yang tinggal di mancanegara untuk ikut bergerak aktif bersama kami. Mari kita bersama kurangi risiko dan kendalikan penyakit Jantung.

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS

📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Melawan Mager

KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

Stop Buat Alasan Mager

Tidak kaget jika 1 dari 4 penduduk Indonesia tergolong malas gerak. Karena kebiasaan kita kemana-mana naik motor. Walaupun cuma ke warung yang berada di sebelah gang rumah, motor pun ditarik keluar garasi untuk mengantar ke warung tersebut.

Christyana Sandra @yanasandra12 yang biasa dipanggil Yana ini pun mengaku sering mengalami permasalahan yang sama. Menurutnya, alasan untuk malas gerak itu banyak sekali, hampir tak terhitung. Namun, kalau malas terus juga akan berakibat buruk bagi kesehatan.”90% kegagalan berasal dari orang-orang yang biasa membuat alasan. Stop buat alasan malas gerak” ujar wanita yang sehari-hari menjadi dosen di Universitas Jember ini.

Yana pun punya jurus tersendiri. Wanita alumni FKM Universitas Airlangga Surabaya ini selalu mengantongi gawainya. Dia memastikan aplikasi Pedometer & Step Tracker nya aktif mengukur setiap aktivitas tubuhnya. Mulai saat mengajar di kelas, membersihkan rumah dan jalan-jalan bersama putra-putrinya. Aplikasi membantunya menghitung capaian gerak dan datanya langsung tersinkronisasi di grup Melawan Mager. “Melawan Mager itu seperti komunitas dukungan online. Anggotanya berlokasi jauh-jauh, ada yang di Aceh, Lampung, Banyuwangi, dan Salaya-Thailand. Kita semua pun terhubung, saling menyemangati, saling mendukung. Member terus bertambah” ujarnya.

Yana mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager. Kamu tertarik menjadi salah satu dari ratusan Pelawan Mager?

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS

📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Melawan Mager

KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

Melawan Mager Terbukti Membantu BPJS!

Tubuh yang kurang gerak berisiko tinggi terserang berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular (stroke, hipertensi, jantung dll), kanker dan diabetes. Padahal penyakit tersebut termasuk dalam golongan penyakit yang banyak makan uang BPJS. Contohnya penyakit Jantung berhasil menyedot 6,67 Triliun, Kanker (2,21 Triliun) dan berikutnya Stroke (1,62 Triliun). Penyakit Jantung menyerap sebanyak 51,99% pendanaan di BPJS (detik.com, 2018).

Melawan malas gerak dengan rutin terbukti secara signifikan menjaga kondisi tetap bugar dan mampu mencegah berbagai penyakit tersebut (World Health Organization, 2018). Jika masyarakat sehat, terbebas dari penyakit-penyakit tersebut maka BPJS pun akan terbantu.

Nah, lebih baik mencegah atau mengobati?

Kapan kamu ambil peran membantu BPJS?

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS

📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Melawan Mager

KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

Selalu Ada Jalan Untuk Melawan Malas Gerak (Mager)

Detti Febriana @dettife sering menduduki posisi tertinggi capaian Pacer Team #MelawanMager. Walaupun disibukkan dengan aktivitas rapat dan agenda super padat, tapi selalu ada saja caranya untuk bergerak aktif. Dia pun pernah malam-malam memutari kolam renang di salah satu hotel ternama di Jakarta setelah seharian Workshop Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. ”Jika ia penting akan ditemukan 88 jalan. Jika tidak akan dicari 88 alasan”, ungkap wanita dari Lampung yang sehari-hari aktif sebagai Tenaga Ahli Parlemen ini.

EVERY STEP COUNTS. ANYWHERE. ANYTIME.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS

📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Melawan Mager

KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

Lomba Poster Pekan ASI Sedunia 2017 – Kemenkes RI (Diperpanjang sampai 31 Juli 2017)

Tema:

"Bekerja Bersama untuk Keberlangsungan Pemberian ASI”

Sub tema:

  • Ibu Bekerja, ASI Tetap Diberikan
  • Ibu Bekerja, ASI Jalan Terus
  • Ayo Dukung Ibu Menyusui
  • Menyusui itu Mudah, Sehat  dan Tidak Menambah Biaya Keluarga
  • Menyusui, Anak Sehat, Cerdas dan Menjadi Generasi Berkualitas
  • Menyusu Meningkatkan Produktifitas Perusahaan
  • Menyusui, Menjaga Lingkungan dari Sampah Akibat Produk Susu Formula

Syarat Lomba Desain Poster Pekan ASI Sedunia Tahun 2017 di Kementerian Kesehatan

  • Peserta merupakan Warga Negara Indonesia, berusia 15 – 18 tahun, berdomisili/bersekolah di DKI Jakarta (**peserta luar DKI Jakarta dapat mengikuti lomba, namun apabila menjadi pemenang panitia tidak menyediakan biaya transportasi dan akomodasi untuk penerimaan hadiah tanggal 9 Agustus 2017 di Kemenkes).
  • Menunjukan tanda pengenal (Kartu Pelajar, KTP, KK, Identitas resmi lainnya)
  • Peserta merupakan perorangan tidak berkelompok
  • Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran
  • Peserta wajib mengunduh dan mengisi formulir pendaftaran di sini dan mengirimkan formulir pendaftaran yang telah diisi ke alamat email posterpas2017@gmail.com sejak tanggal 17 Juli 2017 sampai tanggal 28 Juli 2017 (diperpanjang sampai 31 Juli 2017)
  • Peserta wajib memberi konfirmasi setelah mengirim formulir pendaftaran dengan menghubungi Hana (08119191291) atau Krisna (081392142631) melalui wa atau sms, dengan format LOMBAPOSTERPAS2017KEMKES(spasi)NAMA PESERTA(spasi)ASALSEKOLAH/UNIVERSITAS/UMUM(spasi)SUDAHMENGIRIM FORMULIR.

Ketentuan Pembuatan Poster dalam Lomba Desain Poster Hari ASI Sedunia Tahun 2017 di Kementerian Kesehatan

  • Poster yang dibuat adalah karya sendiri bukan hasil karya orang lain atau plagiat dan belum pernah dipublikasikan serta belum pernah dilombakan pada lomba poster lain. Apabila poster tersebut terbukti melanggar ketentuan orisinalitas maka peserta akan didiskualifikasi dari perlombaan.
  • Jenis poster yang dilombakan adalah Poster publik.
  • Poster hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia yang dituliskan dengan singkat, jelas, dan efektif.
  • Karya poster tidak mengandung unsur SARA, pornografi, dan politik.
  • Desain poster mencantumkan logo Kementerian Kesehatan
  • Karya poster dibuat menggunakan program computer grafis/software grafis yang tersedia (Corel Draw, Adobe Photoshop, Illustrator dll.)
  • Format file poster yang dikirimkan yaitu 2 jenis, Yang pertama sesuai dengan format file dari program/software aplikasi pembuatan poster dan yang kedua adalah format JPEG. Contoh: Apabila peserta membuat poster menggunakan coreldraw maka format yang dikirimkan berbentuk CDR dan wajib juga mengirimkan format JPEGnya.
  • Format karya poster dibuat dengan ukuran 3508 x 4961 pixels (setara dengan ukuran A3, 150 pixel/inch), dengan posisi vertikal.
  • Setiap peserta wajib membuat narasi atas karya yang dibuat. Narasi dibuat dalam 1 halaman kertas A4.
  • Peserta wajib mengirimkan softcopy poster dan narasi poster paling lambat hari Rabu, 1 Agustus 2017 sesuai format aplikasi bawaan yang  nama filenya diberi nama LOMBAPOSTERPAS2017KEMKES(spasi)NAMA PESERTA (spasi) ASAL SEKOLAH/UNIVERSITAS/UMUM, dengan melampirkan formulir pendaftaran dan scan Kartu Identitas dalam bentuk jpg. Dikirim ke email posterpas2017@gmail.com dengan subjek LOMBAPOSTERPAS2017KEMKES (spasi)NAMA PESERTA(spasi)ASALSEKOLAH/ UNIVERSITAS/UMUM.
  • Setelah melakukan pengiriman, peserta wajib mengkonfirmasi Hana (08119191291) atau Krisna (081392142631) melalui wa atau sms dengan format LOMBAPOSTERPAS2017KEMKES(spasi)NAMA PESERTA(spasi) ASAL SEKOLAH/UNIVERSITAS/UMUM (spasi) SUDAH MENGIRIM KARYA
  • Naskah poster menjadi hak milik dan hak publikasi panitia sedangkan hak cipta tetap ada pada penulis.
  • Panitia berhak mendiskualifikasi peserta jika melakukan pelanggaran.
  • Pengumuman pemenang yang akan diumumkan pada pada 6 Agustus 2017 melalui email dan media social
  • Pemenang akan diundang untuk menghadiri Peringatan Pekan Asi Sedunia 2017 di Kementerian Kesehatan untuk memperoleh penghargaan dan hadiah menarik dari Kementerian Kesehatan
  • Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

 

Kriteria Penilaian Lomba Desain Poster Pekan ASI Sedunia 2017

  • Kesesuaian dengan Tema, ide dan gagasan yang menarik dan memberikan informasi yang baik.
  • Pesan.: Pesan singkat, padat , jelas dan terbaca. Jenis huruf yang jelas keterbacaannya. Warna huruf dan warna latar belakang kontras dan jelas.
  • Artistik: Hal-hal yang perlu diperhatikan: warna dan gambar yang menarik. Lebih baik gambar  tidak mengambil dari Internet, gambar menggunakan model/talent orang Indonesia, gambar tidak melanggar etika dan kesopanan.

Hadiah Pemenang

  • Juara 1             :  Tropy + Sertifikat + Hadiah Menarik
  • Juara 2             :  Tropy + Sertifikat + Hadiah Menarik
  • Juara 3             :  Tropy + Sertifikat + Hadiah Menarik

Catatan: Seluruh peserta yang mengikuti lomba poster mendapatkan sertifikat, yang akan  dikirimkan ke alamat rumah. Jika ada pertanyaan bisa menghubungi Hana (08119191291) atau Krisna (081392142631) melalui wa atau sms atau telepon.
 

Juri

  1. ekretariat Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan
  2. Dit. Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan
  3. Dit. Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan
  4. Dit. Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan
  5. Dit. Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan
  6. Forum Pelajar Indonesia

Aduh! Karena Rokok Cinta Ditolak

Sedih nggak tuh, kalau cinta bertepuk sebelah tangan. Versi berikutnya dari Iklan Layanan Masyarakat besutan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat ini bercerita tentang wanita yang menolak cinta dari seorang pria. Wanita akan berpikir beribu kali untuk menerima perokok menjadi pasangannya lho, bahkan pada titik tertentu, wanita tidak akan pernah menerima cinta dari seorang perokok. Apa sih alasannya ?

Semoga bisa menjadi motivasi untuk Sobat Sehat agar selalu hidup sehat tanpa rokok ya.

 

[ Media Promosi Kesehatan | Kesehatan Masyarakat ]

Coba Cek Kembali, Apa Benar Kalau Merokok Bikin Tampak Jantan ?

Iklan layanan masyarakat produksi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga ini bercerita tentang seorang perokok sangat tergantung dengan korek api.  Jika benar di iklan rokok kalau merokok bisa menyebabkan seorang pria tampak semakin jantan, seharusnya perokok juga bisa dong menyalakan rokoknya tidak dengan korek api, tapi dengan batu.

 

[ Media Promosi Kesehatan | Kesehatan Masyarakat ]

Waspada! Tren #SkipChallenge Berisiko Mengancam Nyawa

Setelah tren Mannequin Challenge, saat ini publik sedang digemparkan dengan aksi Skip Challenge atau Pass Out Challenge. Tantangan berbahaya ini mulai digandrungi remaja dan viral di media sosial.

Skip Challenge dilakukan dengan menekan bagian dada sekeras-kerasnya selama beberapa waktu untuk membuat seseorang kekurangan oksigen sehingga kehilangan kesadaran alias pingsan. Mirisnya, banyak remaja menganggap tantangan ini memberikan pengelamanan menegangkan dan menyenangkan. Selain itu, remaja melakukannya karena tekanan dari teman-temannya agar dianggap tidak ketinggalan tren yang sedang populer.

Namun, Skip challenge nyatanya sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan hipoksia (otak kekurangan oksigen), kejang, pingsan, kerusakan otak, henti napas, henti jantung dan bisa berakibat lebih fatal yang berujung kematian. Otak kekurangan oksigen lebih dari tiga menit maka bisa mengakibatkan kerusakan, bila lebih dari lima menit akibatnya jauh lebih fatal.

Telah banyak korban berjatuhan akibat aksi nekat ini. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika menyatakan, sepanjang 1995-2007, ada 82 media di AS yang melaporkan kematian karena Skip Challenge ini.

Peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk mencegah tren ini kembali memakan korban. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pemahaman yang jelas kepada remaja tentang risiko yang mengancam nyawa.

***

Informasi ini kerjasama HEALTH proMOTION dan Persakmi

[ Media Promosi Kesehatan | Kesehatan Masyarakat ]