Bergerak Aktif #MelawanMager bikin Hidup Lebih Bahagia

Bergerak aktif seperti olahraga akan membantu tubuh belajar beradaptasi dan terbiasa menghadapi stres dengan baik. Tubuh akan mudah bertahan menghadapi tekanan lainnya. Stres akan menyebabkan detak jantung menjadi lebih cepat, otot menegang, dan tekanan darah meningkat. Maka olahraga dapat menurunkan dan membuat kembali normal.

Jika kita malas gerak (mager), maka tubuh akan tidak siap menghadapi stres. Akhirnya sering mengalami insomnia, nafsu makan meningkat, jantung berdetak lebih cepat dan berujung pada meningkatnya risiko terserang Diabetes Mellitus, obesitas, sistem kekebalan tubuh menurun, pikiran jadi kurang fokus ’plonga-plongo’ dan masih banyak lagi.

Riset yang melibatkan 49 wanita yang mengalami stres berat dan diminta olahraga selama 8 minggu berturut-turut, menunjukkan perubahan yang signifikan. Fungsi tubuhnya normal dan hasil tes psikologi menunjukkan stres berkurang, bahkan hilang sama sekali. Penelitian tersebut juga mengungkap fakta bahwa bergerak aktif juga mampu meningkatkan hormon serotonin dan endorfin atau disebut juga HORMON BAHAGIA. Hormon tersebut membuat tubuh merasa rileks, tenang, dan bahagia.

Umi Sofiyana mengajak #SobatSehat selalu HIDUP BAHAGIA dengan cara aktif bergerak #MelawanMager

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  • 📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS.
  • 📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager
  • LANGKAH TERHITUNG. 🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♀️
  • KITA TERHUBUNG. 🤝
  • SALING MENDUKUNG ❤️
  • Waspada! Tren #SkipChallenge Berisiko Mengancam Nyawa

    Setelah tren Mannequin Challenge, saat ini publik sedang digemparkan dengan aksi Skip Challenge atau Pass Out Challenge. Tantangan berbahaya ini mulai digandrungi remaja dan viral di media sosial.

    Skip Challenge dilakukan dengan menekan bagian dada sekeras-kerasnya selama beberapa waktu untuk membuat seseorang kekurangan oksigen sehingga kehilangan kesadaran alias pingsan. Mirisnya, banyak remaja menganggap tantangan ini memberikan pengelamanan menegangkan dan menyenangkan. Selain itu, remaja melakukannya karena tekanan dari teman-temannya agar dianggap tidak ketinggalan tren yang sedang populer.

    Namun, Skip challenge nyatanya sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan hipoksia (otak kekurangan oksigen), kejang, pingsan, kerusakan otak, henti napas, henti jantung dan bisa berakibat lebih fatal yang berujung kematian. Otak kekurangan oksigen lebih dari tiga menit maka bisa mengakibatkan kerusakan, bila lebih dari lima menit akibatnya jauh lebih fatal.

    Telah banyak korban berjatuhan akibat aksi nekat ini. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika menyatakan, sepanjang 1995-2007, ada 82 media di AS yang melaporkan kematian karena Skip Challenge ini.

    Peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk mencegah tren ini kembali memakan korban. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pemahaman yang jelas kepada remaja tentang risiko yang mengancam nyawa.

    ***

    Informasi ini kerjasama HEALTH proMOTION dan Persakmi

    [ Media Promosi Kesehatan | Kesehatan Masyarakat ]