10 Mei, Hari Lupus Sedunia #WorldLupusDay

Lebih dari lima juta orang dari seluruh belahan dunia diperkirakan terdiagnosis Lupus.  Jumlah Odapus (Orang yang hidup dengan Lupus) dari Yayasan Lupus Indonesia (YLI) pada tahun 2012 mencapai 12.700 jiwa. Jumlah ini meningkat menjadi 13.300 jiwa pada tahun 2013 dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Sekitar 90% Odapus adalah wanita aktif usia subur antara 15-45 tahun. Hal ini sesuai dengan rasio jenis kelamin wanita berbanding pria yaitu 9:1.

Lupus sering dikenal juga dengan nama Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Lupus adalah penyakit peradangan menahun (kronis) yang dapat mengenai berbagai organ dan sistem tubuh sebagai reaksi alergi terhadap diri sendiri atau disebut juga autoimun. Autoimun berasal dari kata auto artinya sel atau jaringan tubuh sendiri. Imun artinya sistem pertahanan tubuh. Jadi autoimun artinya situasi saat sistem imun tidak mengenali sel atau jaringan tubuh sendiri.

Lupus bukan penyakit menular. Namun, hingga saat ini penyebab Lupus belum diketahui. Diduga Lupus terjadi ketika suatu susunan gen yang memiliki kelemahan terkena paparan faktor lingkungan, yaitu ketidakseimbangan hormon, stres fisik maupun psikis (pikiran), sinar ultraviolet, infeksi, beberapa jenis obat dan zat kimia tertentu.

Waspadai jika mengalami empat atau lebih gejala Lupus berikut ini, segera konsultasi dengan dokter pemerhati Lupus untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  1. Demam lebih dari 38’C dengan sebab yang tidak jelas.
  2. Rasa lelah dan lemah berlebihan.
  3. Sensitif terhadap sinar matahari.
  4. Rambut rontok.
  5. Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah yang sayapnya melintang dari pipi ke pipi.
  6. Ruam kemerahan di kulit.
  7. Sariawan yang tidak sembuh-sembuh terutama di atap rongga mulut.
  8. Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai, menyerang lebih dari dua sendi dalam jangka waktu lama.
  9. Ujung jari-jari tangan dan kaki menjadi pucat hingga kebiruan saat udara dingin.
  10. Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas.
  11. Kejang atau kelainan saraf lainnya.

Pemeriksaan laboratorium yang meliputi periksa darah rutin, urin rutin dan imunologis akan dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan menentukan beratnya penyakit.

Pada umumnya seseorang yang terdiagnosa penyakit berat akan mengalami beberapa fase sebelum  bisa menerima keadaaan dirinya. Saat ini masih banyak ditemukan mitos yang beredar yang berdampak negatif terhadap Odapus. Misalnya Lupus dianggap sebagai penyakit menular. Akibatnya masyarakat sering mengucilkan Odapus.

Oleh karena itu, informasi yang benar tentang Lupus pada keluarga dan masyarakat akan sangat bermanfaat untuk mendorong Odapus beraktifitas normal dan melanjutkan hidup yang lebih berkualitas.

***

Informasi Kesehatan Masyarakat | Promosi Kesehatan | “motion for HEALTH”

Sumber : SHF, World Lupus Day, Kemenkes RI

8 Mei – Hari Thalassaemia Sedunia

Thalassaemia adalah penyakit keturunan dengan gejala utama pucat, perut tampak membesar karena pembengkakakan limpa dan hati, dan apabila tidak diobati dengan baik akan terjadi perubahan bentuk tulang muka dan warna kulit menjadi menghitam. Penyebab penyakit ini adalah kekurangan salah satu zat pembentuk Hemoglobin (Hb) sehingga produksi hemoglobin berkurang.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1994 menunjukkan bahwa jumlah carrier atau orang yang mempunyai gen pembawa Thalassaemia di seluruh dunia mencapai 4,5%, yaitu sekitar 250 juta orang. Menurut WHO, jumlah kasus Thalassaemia cenderung meningkat.

Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang berisiko Tinggi Thalassaemia. Prevalensi Thalassaemia bawaan atau carrier di Indonesia adalah sekitar 3-8%. Jika persentase Thalassaemia mencapai 5%, dengan angka kelahiran 23 per 1.000 dari 240 juta penduduk, maka diperkirakan ada sekitar 3.000 bayi penderita Thalassaemia yang lahir di Indonesia setiap tahunnya. Hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas tahun 2007, menunjukkan bahwa prevalensi nasional Thalassaemia adalah 0,1 ‰. Ada 8 propinsi yang menunjukkan prevalensi Thalassaemia lebih tinggi dari prevalensi nasional, yaitu, Aceh: 13,4‰, Jakarta: 12,3‰, Sumatera Selatan: 5,4‰, Gorontalo: 3,1‰, dan Kepulauan Riau: 3‰.

Setiap tahun, sekitar 300 ribu anak dengan Thalassaemia akan dilahirkan dan sekitar 60-70 ribu di antaranya adalah penderita  dari jenis  beta-thalasemia mayor. Penderita beta-thalasemia mayormemerlukan transfusi darah sepanjang hidupnya.

Thalassaemia bukanlah penyakit menular melainkan penyakit yang dapat diturunkan. Cara penurunan thalasemia dibagi dalam tiga jenis. Jenis pertama adalah Thalassaemia trait (Thalassaemia minor). Keadaan ini terjadi pada orang yang sehat, namun ia dapat menurunkan gen Thalassaemia pada anaknya. Jenis kedua adalah Thalassaemia mayor. Keadaan ini terjadi bila kedua orangtua mempunyai pembawa sifat thalasemia dan penderitanya akan memerlukan transfusi darah secara berkala seumur hidupnya. Jenis ketiga adalah Thalassaemia intermedia yang merupakan kondisi antara Thalassaemia mayor dan minor. Penderita thalasaemia intermedia mungkin memerlukan transfusi darah secara berkala dan dapat bertahan hidup sampai dewasa.

Penjelasan tentang Thalassaemia dapat Sobat Sehat saksikan dalam tayangan berikut ini :

 

***

Sumber : Thalassaemia.org, Yayasan Thalassaemia Indonesia, Sehat Negeriku

[ Informasi Kesehatan Masyarakat | Media Promosi Kesehatan | motion for HEALTH ]

“Everywhere for Everyone” Hari Palang Merah Sedunia, 8 Mei

Hari Palang Merah Sedunia jatuh pada 8 Mei. Setiap tahunnya sejak tahun 1948, 8 Mei diperingati sebagai Hari Palang Merah Sedunia untuk menghargai jasa penemu Gerakan Palang Merah Dunia, Henry Dunant, yang juga lahir di tanggal tersebut. Peringatan Hari Palang Merah Sedunia bertujuan untuk menginspirasi, memfasilitasi, dan juga mempromosikan seluruh aktivitas kemanusiaan yang dilakukan oleh Komite Internasional Palang Merah dan anggota Komunitas Nasional yang ikut tergabung. Selain itu, peringatan tersebut juga digunakan sebagai kesempatan untuk menghargai jasa para relawan dan staf yang berjuang menyelamatkan nyawa orang banyak.

Tahun 2017 ini, peringatan mengangkat slogan global “Everywhere for Everyone” (Dimanapun untuk Siapapun). Slogan ini memiliki arti bahwa organisasi Palang Merah berada dimana-mana untuk membantu siapapupun, tanpa melihat perbedaan suku, agama, gender, suku, atau pandangan politik.

Slogan tersebut juga mengandung makna kepada siapapun untuk dapat membantu siapa saja. PMI (Palang Merah Indonesia) mengangkat tema #KitaSiapBantu. Tema ini untuk memotivasi dan mengajak siapapun untuk bisa dan siap membantu orang lain. Tema yang juga menjadi mandat tugas PMI ini juga bertujuan untuk mengangkat kembali rasa kepedulian di tengah masyarakat.

Berikut pesan dari IFRC Secretary General – Elhadj As Sy

***
Sumber : PMI dan IFRC
[ Informasi Kesehatan Masyarakat | Media Promosi Kesehatan | motion for HEALTH ]