Riset: iklan rokok kepung sepertiga sekolah di Surabaya, kenapa Risma tidak melarangnya?

Hampir sepertiga sekolah dasar dan menengah pertama di Kota Surabaya dikepung oleh ratusan iklan rokok luar ruang. Tanpa peraturan larangan iklan rokok di tepi jalan-jalan utama dan dekat sekolah, wajah Kota Pahlawan akan terus disesaki oleh promosi produk yang merusak kesehatan penduduk tersebut.

Riset terbaru kami membuktikan bahwa mudah sekali melihat dan menemukan iklan rokok di luar ruang di sekitar lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga universitas, di Kota Surabaya. Hampir 30% dari 1199 sekolah negeri dan swasta di kota ini masing-masing terpapar setidaknya oleh satu iklan rokok di lingkungannya. Sekitar 300 meter dari sekolah atau 10 menit dari sekolah, mudah ditemukan papan reklame rokok. Dua pertiga universitas juga “diserbu” oleh iklan tembakau di ruang terbuka. 

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mestinya lebih maju langkahnya dalam melindungi warganya dari paparan iklan tembakau, terutama anak-anak di sekolah, yang mungkin memandang rokok sebagai produk normal seperti teh kemasan. Padahal, jelas bahwa rokok adalah produk tidak normal dan berbahaya baik secara kesehatan, lingkungan, maupun ekonomi keluarga. Iklan rokok adalah cara industri tembakau untuk “menormalisasi” perilaku merokok dan menggaet perokok baru.

Walau Kota Surabaya mempunyai Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sejak 2008 dan diperbarui tahun ini, regulasi ini tidak melarang iklan rokok di luar ruangan. Melihat kepungan iklan rokok di kawasan sekolah tersebut, maka potensi adanya peningkatan perokok pemula perlu diperhatikan oleh pemerintah Kota Surabaya.

Perusahaan rokok bebas beriklan

Indonesia adalah salah satu kontributor utama jumlah perokok di dunia dengan lebih dari 60 juta perokok pada 2018. Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan prevalensi merokok di kalangan remaja (10-18 tahun) meningkat sebesar 1,9% (7,2% menjadi 9,1% selama 2013-2018). 

Salah satu pemicunya adalah promosi yang agresif melalui iklan di luar ruang. Studi kami menjelaskan posisi geografis dan jarak pandang iklan rokok luar ruang di sekitar sekolah dan universitas di Kota Surabaya. Kami memakai analisis geospasial dengan radius 100 dan 300 meter dan hotspot analysis (daerah yang memiliki kepadatan iklan lebih tinggi).

Data lokasi iklan rokok ukuran besar dan sedang dikumpulkan pada Oktober-November 2018 dengan mensurvei 250 ruas jalan yang boleh dipasangi reklame seperti ditetapkan dalam Peraturan Wali Kota No. 70 Tahun 2010. Data geocode kami ambil dengan menggunakan aplikasi mobilephone dan dibantu dengan ArcMap 10.6. 

Kami menemukan 307 iklan rokok di jalur-jalur tersebut yang meliputi billboard (63%), banner (31%), dan videoboard (7%). Sebagian besar iklan (89%) dimiliki oleh tiga perusahaan terbesar: PT. Djarum (38%) dan PT. Gudang Garam (24%) dan PT HM Sampoerna (Phillip Morris) (27%). Sisanya, 11 persen, milik PT. Bentoel International, PT. Wismilak, PT. Kayadibya Mahardika (Apache), PT Kolang Citra Abadi (Moden), dan PT. Nojorono Tobacco (Minak Djinggo/Class Mild).

Iklan tersebut dipasang di seluruh kota dengan beberapa terkonsentrasi secara strategis di bagian pusat kota (Surabaya tengah). Kami bandingankan data lokasi iklan itu dengan data lokasi sekolah dan universitas negeri dan swasta di kota ini.

Dari data ini tampak ada potensi paparan iklan rokok pada ratusan ribu anak-anak usia sekolah (ada sekitar 470 ribu siswa berusia 5-19 tahun di Kota Surabaya). Dalam hal intensitas iklan, ada 239 iklan rokok (78% dari total) berada dalam jarak 300 meter dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki 10 menit dari sekolah. Iklan mereka paling banyak ditemui di lingkungan sekitar sekolah swasta dan sekolah dasar dan sekolah menengah. Dua pertiga universitas berada di dalam hotspot iklan rokok. 

Tingginya visibilitas iklan rokok luar ruang di sekitar fasilitas pendidikan terjadi karena di kota ini tak ada larangan promosi rokok di ruang terbuka. Banyak dari promosi tersebut adalah papan iklan dan papan video besar, yang pesannya lebih mudah diingat orang muda.

Dari data tersebut tampak bahwa tiga perusahaan tembakau terbesar (Djarum, Gudang Garam, dan Sampoerna) memasarkan rokok secara agresif dan menarik, terutama kepada kaum muda. Semua ini mendorong citra merek yang ada dalam materi iklan dan meningkatkan potensi penggunaan tembakau di kalangan muda. 

Hasil riset ini juga menunjukkan titik pusat (hotspot) iklan yang signifikan, terutama di daerah tengah kota yang terlihat lebih padat penduduknya dan lebih miskin. Ini dapat berkontribusi pada meningkatnya penggunaan tembakau di antara populasi yang lebih miskin, khususnya kaum muda.

Lemahnya pengendalian tembakau

Pemerintah Indonesia begitu lemah mengendalikan tembakau, termasuk tidak ada larangan iklan rokok di luar ruang secara nasional. Padahal, banyak negara telah memberlakukan larangan nasional terhadap iklan tembakau luar ruang termasuk Amerika Serikat (sejak 1998), Inggris (sejak 2003), dan Sri Lanka (sejak 2006).

Di tingkat daerah, beberapa kabupaten telah melarang iklan rokok di luar ruang tapi masih menemui kendala implementasi. Contohnya, Kabupaten Banyuwangi memberlakukan larangan iklan rokok di jalan utama dan arena olahraga pada 2016, tapi survei menemukan sekitar 1.300 iklan rokok setahun kemudian. 

Riset kami bertujuan untuk memberikan bukti tentang visibilitas iklan rokok luar ruangan di sekitar fasilitas pendidikan di Kota Surabaya yang tidak memiliki peraturan larangan. 

Hasil riset ini mendukung peran penting regulasi yang melarang iklan rokok luar ruang dalam mengurangi paparan pemasaran rokok, khususnya bagi kaum muda. Bukti ini seharusnya dapat mengingatkan pemerintah untuk melarang iklan tembakau luar ruangan. 

Idealnya iklan rokok di luar ruang dilarang total untuk menghentikan tren peningkatan prevalensi merokok di kalangan kaum muda. 

Belajar dari daerah lain

Saat ini, hanya sekitar 3% kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki beberapa peraturan untuk melarang iklan tembakau luar ruangan. Upaya terpadu harus dilakukan untuk meluaskan pelarangan iklan rokok di ruang terbuka ke 97% kabupaten lainnya.

Rujukan paling memadai larangan iklan rokok di ruang publik adalah DKI Jakarta (sejak 2015), Kota Bogor (sejak 2015) dan Kulonprogo (sejak 2014). Pengalaman daerah tanpa iklan di Indonesia tersebut dapat dijadikan acuan berbagai kota lainnya, bahwa iklan rokok bukan satu-satunya sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

Roda pemerintahan daerah yang melarang iklan rokok di luar ruang itu tetap berjalan normal. Ruang iklan yang dulu dibeli oleh perusahaan rokok kini tergantikan oleh produk lain non-tembakau seperti telekomunikasi, aplikasi transportasi, perbankan, dan produk lainnya.

Dengan temuan riset ini, kami sangat berharap Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini segera melarang total iklan rokok luar ruang untuk melindungi anak-anak dari paparan promosi rokok di Kota Pahlawan.

Penulis:

  • Ilham A. Ridlo (Universitas Airlangga)
  • Dian Kusuma (Imperial College London)
  • Hario Megatsari (Universitas Airlangga)

Sumber: The Conversation

Pre-Order Buku “Connecting The Unconnected”: Riset Aksi Partipatif Desa Berdaya

Memahami kesehatan dan perilaku hidup sehat yang berkembang dan dikembangkan masyarakat, niscaya tidak akan pernah memadai jika hanya dikaji dari kacamata orang luar yang senantiasa berjarak dan cenderung bersikap superior. Chambers (1987) menyatakan sikap perencana pembangunan yang berlagak seperti “turis pembangunan”, hanya akan melahirkan cara pandang yang keliru, hanya melihat dengan kaca mata orang lain, dan bahkan menghakimi masyarakat yang diteliti sebagai kelompok yang memiliki subkultur dan perilaku yang kontra-produktif bagi pembangunan.

Seluruh paparan dalam buku ini memperlihatkan pada kita bahwa untuk memahami persoalan kesehatan tidaklah cukup dilakukan analisis dari balik meja atas data yang diperoleh dari penelitian survey atau data kualitatif dari depth interview. Pemahaman yang benar-benar empatif kepada masyarakat niscaya akan lebih terbangun dari data riset aksi partisipatif, karena dengan cara itu peneliti akan memungkinkan melakukan aktivitas praksis, sekaligus mengembangkan pemahaman kritis kepada subjek yang diteliti.

(Prof. Bagong Suyanto – Guru Besar FISIP Universitas Airlangga Surabaya)

Mau mendapatkan buku ini lebih cepat dan dapet diskon?

Segera hubungi

@kinansarweni (082233147084 )

@zulfiahusnia (085735552908)

*PROMO SOFT LAUNCHING Cetakan Pertama*

Pre-Order buku setebal 256 halaman ini dilepas dengan harga Rp. 70.000,- (harga normal Rp. 80.000,-)

10th Asia Pacific Conference on Reproductive and Sexual Health Rights “SRHR in Asia Pacific: 2030 Sustainable Development Goals (SDG) Vision and 2020 Realities”

APCRSHR10 Cambodia will be hosted in SIEM REAP, CAMBODIA MAY 26-29, 2020.

Hosted by the Reproductive Health Association of Cambodia (RHAC), an indigenous Cambodian NGO with over two decades of experience in service provision, health education, community programs, and advocacy.

APCRSHR is the largest regional biennial gathering of experts and practitioners working in sexual and reproductive health and rights (SRHR) in the Asia Pacific, including representatives of civil society, youth networks, academia, government, media, private firms, and development partners.

The conference will explore the theme SRHR in Asia Pacific: 2030 Sustainable Development Goals (SDG) Vision and 2020 Realities through six main tracks:

The conference is organized as a joint collaboration between a National Steering Committee and an International Steering Committee featuring leading national and international organizations, educational institutions, advocacy and grassroots organizations, and experts in the field of SRHR, and a Youth Steering Committee of emerging leaders and advocates.

The conference will be held in Siem Reap, a premiere global tourism destination. Every year, more than two million people travel to the charming northern city to visit Angkor Wat, a treasured UNESCO World Heritage Site and Guinness World Record holder as the largest religious structure ever built. Siem Reap also boasts a flourishing culinary scene, bustling nightlife, a variety of artistic and cultural activities, a convenient, well-connected international airport, and a range of accommodation options, including budget-friendly hostels and guest houses, mid-range boutique hotels, and several luxury resorts. 

Additional logistical details will be supplied soon.

REGISTRATION DEADLINES & FEES (USD

  • Very Early = 1st February to 30th June 2019 
  • Early = 1st July to 30th November 2019
  • Regular = 1st December 2019 to 30th April 2020
  • Onsite = 1st May to 27th May 2020
  • Youth = Under 24 years old by 27th May 

KEY DATES

OPPORTUNITIES FOR INVOLVEMENT

Conference Delegates

  • Network with influential and innovative SRHR experts and practitioners 
  • Gain impactful knowledge, new ideas, and strengthened skills
  • Share your research and products with an esteemed international audience
  • Advocate on behalf of and seek support for SRHR issues

Satellite Sessions & Exhibition Booths 

  • Directly deliver your message to hundreds of regional stakeholders
  • Heighten awareness of best practices
  • Showcase the unique accomplishments of your organization
  • Advertise your products and services
  • Seek regional consensus on key issues 

Please note that additional details and cost schedules for satellite sessions and exhibitions booths will be released soon.

ORGANISING COMMITTEE 

REGISTER, SUBMIT ABSTRACTS, & LEARN MORE: APCRSHR10CAMBODIA.ORG

QUESTIONS, CONCERNS, & SPECIAL REQUESTS: APCRSHR10RHAC@GMAIL.COM

Mager Mengundang Penyakit ke Tubuh Kita

Mager mengundang penyakit ke tubuh kita” ~ @anjarisme | PNS Kementerian Kesehatan RI

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY. 

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  •  Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS.
  •  Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager
🏃🏻‍♂️
🏃🏻‍♀️
🤝
❤️

LANGKAH TERHITUNG KITA TERHUBUNG  SALING MENDUKUNG 

Wakil Bupati Trenggalek: Sering Baper? Mungkin Kalian Sering Mager

”Sering baper? Mungkin karena kalian sering mager. Gerak dong, badan sehat, pikiran positif dan banyak teman. Siapa tau aja dari teman ada yang jodoh, eh!” ~ Mochamad Nur Arifin @avinml (Wakil Bupati Trenggalek, Jawa Timur)

 

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  • 📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android dan iOS.
  • 📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager

 

LANGKAH TERHITUNG🏃🏻‍♂️🏃🏻‍♀️ KITA TERHUBUNG 🤝 SALING MENDUKUNG ❤️

 

 

 

Peringkat 1-70 Pelawan Malas Gerak – Oktober 2018 #MelawanMager

Siapa saja yang menempati posisi 1-70 #MelawanMAGER bulan Oktober 2018?

Mari kita sambut dengan tepuk tangan super meriah!!

#MotionForHealth #IndonesiaLebihSehat#BeatNCDs

Kami mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager setiap hari.

 

Kami mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager. Caranya gampang banget! Berikut petunjuknya.

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

 

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  • 📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android  dan iOS
  • 📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager

LANGKAH TERHITUNG. KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

Pemuda Sehat, Indonesia Kuat! Ayo #MelawanMager

1 dari 4 penduduk Indonesia terjebak malas gerak (Riset Kesehatan Dasar 2013). 65% provinsi di Indonesia dihuni penduduk yang masih kurang melakukan aktivitas fisik.

Malas gerak meningkatkan ancaman terserang penyakit kardiovaskular (stroke, hipertensi, jantung dll), kanker dan diabetes. Padahal penyakit tersebut termasuk dalam golongan penyakit dengan pembiayaan yang tidak murah. Contohnya penyakit Jantung berhasil menyedot duit BPJS sebanyak 6,67 Triliun, Kanker (2,21 Triliun) dan berikutnya Stroke (1,62 Triliun)(detik.com, 2018). Akibatnya, uang habis, kita juga kurang produktif.

Kami mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager. Caranya gampang banget! Berikut petunjuknya.

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  • 📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android  dan iOS
  • 📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager

LANGKAH TERHITUNG. KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

#sumpahpemuda #sumpahpemuda2018#sumpahpemudaindonesia#sumpahpemudamilenial#sumpahpemudamilenial2018

Foto Pelawan Mager: @nurulhp | @harrisbachri | @luciaajeng | @edi_supriyanto | @dhekthree | @k0jek

Cinta itu Melindungi. Karena Rokok Cinta Ditolak!

Siapa yang tidak percaya kekuatan cinta? Saat perasaan suka datang mendera, menghujam kuat pada setiap butir darah yang mengalir. Irama jantung pun berdegup tak teratur. Apalagi saat melihat si dia. Iya, si dia yang kita cinta.

Bagi penganut paham kekuatan cinta adalah semangat untuk melindungi, tentunya apapun kita akan kita lakukan untuk menjaga si dia. Karena setiap detik waktu itu sangat berharga. Waktu untuk bersama awet tahan lama menjadi satu hal yang didamba.

Salah satu menjaga yang kita cinta adalah mengingatkan untuk hidup sehat. Itu adalah salah satu usaha untuk menjaga setiap insan yang disayangi. Berusaha melindungi dari sakit. Dengan harapan bisa mewujudkan mimpi untuk hidup bersama lebih lama.

Ikuti #PromkesNetLearning Edisi 1: “Iklan Rokok Hujani Remaja”

Faktanya, paparan iklan, promosi, dan sponsor rokok pada anak dan remaja berhasil mempengaruhi mereka untuk mencoba rokok. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 menunjukkan sekitar 75% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum usia 19 tahun.

🤔 Kenapa remaja yang jadi target?
🙂 Bagaimana konsep TAPS (Tobacco Advertisement, Promotion and Sponsorship)?

Hario ”Fisto” Megatsari, S.KM, M.Kes akan membahasnya dalam edisi perdana #PromkesNetLearning. Selain menjadi Dosen Minat Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku di FKM Universitas Airlangga, Fisto juga aktif dalam isu pengendalian tembakau di Indonesia.

Kelas Online via WhatsApp Group tersebut akan berlangsung pada:

Hari Jumat, 28 September 2018, pukul 20.00 – 21.30. 

Jangan sampai terlewat, tempat terbatas. Mari bergabung di kelas #PromkesNetLearning yang merupakan program terbaru dari Tim Promkes.net #MotionForHealth. #PromkesNetLearning ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dan masyarakat tentang isu-isu kesehatan.

Formulir pendaftaran bisa diakses DI SINI

Salam #MotionForHEALTH

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Laporan Pendahuluan Indikator Utama

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 (SDKI 2017) merupakan SDKI kedelapan yang memberikan gambaran mengenai kondisi demografi dan kesehatan di Indonesia. Survei yang pertama adalah Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia pada tahun 1987. Survei yang kedua sampai ketujuh adalah SDKI 1991, SDKI 1994, SDKI 1997, SDKI 2002-2003, SDKI 2007, dan SDKI 2012. SDKI 2017 merupakan survei yang dirancang untuk menyajikan informasi mengenai tingkat kelahiran, kematian, keluarga berencana dan kesehatan. Cakupan SDKI 2017 kali ini sama dengan SDKI 2012, yaitu seluruh wanita usia subur (WUS) umur 15-49 tahun, pria kawin umur 15-54 tahun, dan remaja pria belum kawin umur 15-24 tahun. Remaja wanita sudah tercakup dalam WUS.

SDKI 2017 bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai fertilitas, kesertaan KB, kesehatan ibu dan anak, prevalensi imunisasi, serta pengetahuan tentang HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Kegiatan lapangan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2017 di 34 provinsi. Kerangka sampel yang digunakan adalah daftar blok sensus pada PSU (Primary sampling Unit) terpilih dilengkapi dengan informasi jumlah rumah tangga hasil listing Sensus Penduduk 2010. Sampel SDKI 2017 dirancang untuk menghasilkan estimasi nasional berdasarkan karakteristik penting dari wanita usia subur umur 15-49 tahun. Namun demikian, beberapa indikator dapat disajikan menurut provinsi dengan memperhatikan kecukupan sampel.

Hasil pelaksanaan SDKI 2017 disajikan dalam bentuk laporan yang berisi indikator-indikator utama. Laporan ini memberikan gambaran mengenai hasil kunjungan, karakteristik responden dan indikator fertilitas dan keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian bayi dan anak, serta pemahaman tentang HIV-AIDS. Laporan ini dapat menjadi masukan yang berarti untuk penentuan kebijakan terkait fertilitas, keluarga berencana, dan kesehatan di Indonesia.

 

KLIK UNDUH! Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Laporan Pendahuluan Indikator Utama