Peringkat 1-70 Pelawan Malas Gerak – Oktober 2018 #MelawanMager

Siapa saja yang menempati posisi 1-70 #MelawanMAGER bulan Oktober 2018?

Mari kita sambut dengan tepuk tangan super meriah!!

#MotionForHealth #IndonesiaLebihSehat#BeatNCDs

Kami mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager setiap hari.

 

Kami mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager. Caranya gampang banget! Berikut petunjuknya.

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

 

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  • 📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android  dan iOS
  • 📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager

LANGKAH TERHITUNG. KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

Pemuda Sehat, Indonesia Kuat! Ayo #MelawanMager

1 dari 4 penduduk Indonesia terjebak malas gerak (Riset Kesehatan Dasar 2013). 65% provinsi di Indonesia dihuni penduduk yang masih kurang melakukan aktivitas fisik.

Malas gerak meningkatkan ancaman terserang penyakit kardiovaskular (stroke, hipertensi, jantung dll), kanker dan diabetes. Padahal penyakit tersebut termasuk dalam golongan penyakit dengan pembiayaan yang tidak murah. Contohnya penyakit Jantung berhasil menyedot duit BPJS sebanyak 6,67 Triliun, Kanker (2,21 Triliun) dan berikutnya Stroke (1,62 Triliun)(detik.com, 2018). Akibatnya, uang habis, kita juga kurang produktif.

Kami mengajak #SobatSehat aktif bergerak #MelawanMager. Caranya gampang banget! Berikut petunjuknya.

EVERY STEP COUNTS. EVERYONE. EVERYWHERE. EVERYDAY.

Ayo ikut Pacer Team ”MELAWAN MAGER” #MotionForHealth.

Caranya:

  • 📱 Pasang aplikasi Pacer Pedometer & Step Tracker by Pacer Health Inc di smartphone. Android  dan iOS
  • 📲 Buka aplikasi Pacer ~> Klik! EXPLORE -> GROUPS -> SEARCH -> Masukkan Kode: XN43714 -> Pilih: Motion For Health ~> Pilih: Melawan Mager

LANGKAH TERHITUNG. KITA TERHUBUNG. SALING MENDUKUNG!

#sumpahpemuda #sumpahpemuda2018#sumpahpemudaindonesia#sumpahpemudamilenial#sumpahpemudamilenial2018

Foto Pelawan Mager: @nurulhp | @harrisbachri | @luciaajeng | @edi_supriyanto | @dhekthree | @k0jek

Cinta itu Melindungi. Karena Rokok Cinta Ditolak!

Siapa yang tidak percaya kekuatan cinta? Saat perasaan suka datang mendera, menghujam kuat pada setiap butir darah yang mengalir. Irama jantung pun berdegup tak teratur. Apalagi saat melihat si dia. Iya, si dia yang kita cinta.

Bagi penganut paham kekuatan cinta adalah semangat untuk melindungi, tentunya apapun kita akan kita lakukan untuk menjaga si dia. Karena setiap detik waktu itu sangat berharga. Waktu untuk bersama awet tahan lama menjadi satu hal yang didamba.

Salah satu menjaga yang kita cinta adalah mengingatkan untuk hidup sehat. Itu adalah salah satu usaha untuk menjaga setiap insan yang disayangi. Berusaha melindungi dari sakit. Dengan harapan bisa mewujudkan mimpi untuk hidup bersama lebih lama.

Ikuti #PromkesNetLearning Edisi 1: “Iklan Rokok Hujani Remaja”

Faktanya, paparan iklan, promosi, dan sponsor rokok pada anak dan remaja berhasil mempengaruhi mereka untuk mencoba rokok. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 menunjukkan sekitar 75% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum usia 19 tahun.

🤔 Kenapa remaja yang jadi target?
🙂 Bagaimana konsep TAPS (Tobacco Advertisement, Promotion and Sponsorship)?

Hario ”Fisto” Megatsari, S.KM, M.Kes akan membahasnya dalam edisi perdana #PromkesNetLearning. Selain menjadi Dosen Minat Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku di FKM Universitas Airlangga, Fisto juga aktif dalam isu pengendalian tembakau di Indonesia.

Kelas Online via WhatsApp Group tersebut akan berlangsung pada:

Hari Jumat, 28 September 2018, pukul 20.00 – 21.30. 

Jangan sampai terlewat, tempat terbatas. Mari bergabung di kelas #PromkesNetLearning yang merupakan program terbaru dari Tim Promkes.net #MotionForHealth. #PromkesNetLearning ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dan masyarakat tentang isu-isu kesehatan.

Formulir pendaftaran bisa diakses DI SINI

Salam #MotionForHEALTH

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Laporan Pendahuluan Indikator Utama

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 (SDKI 2017) merupakan SDKI kedelapan yang memberikan gambaran mengenai kondisi demografi dan kesehatan di Indonesia. Survei yang pertama adalah Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia pada tahun 1987. Survei yang kedua sampai ketujuh adalah SDKI 1991, SDKI 1994, SDKI 1997, SDKI 2002-2003, SDKI 2007, dan SDKI 2012. SDKI 2017 merupakan survei yang dirancang untuk menyajikan informasi mengenai tingkat kelahiran, kematian, keluarga berencana dan kesehatan. Cakupan SDKI 2017 kali ini sama dengan SDKI 2012, yaitu seluruh wanita usia subur (WUS) umur 15-49 tahun, pria kawin umur 15-54 tahun, dan remaja pria belum kawin umur 15-24 tahun. Remaja wanita sudah tercakup dalam WUS.

SDKI 2017 bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai fertilitas, kesertaan KB, kesehatan ibu dan anak, prevalensi imunisasi, serta pengetahuan tentang HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Kegiatan lapangan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2017 di 34 provinsi. Kerangka sampel yang digunakan adalah daftar blok sensus pada PSU (Primary sampling Unit) terpilih dilengkapi dengan informasi jumlah rumah tangga hasil listing Sensus Penduduk 2010. Sampel SDKI 2017 dirancang untuk menghasilkan estimasi nasional berdasarkan karakteristik penting dari wanita usia subur umur 15-49 tahun. Namun demikian, beberapa indikator dapat disajikan menurut provinsi dengan memperhatikan kecukupan sampel.

Hasil pelaksanaan SDKI 2017 disajikan dalam bentuk laporan yang berisi indikator-indikator utama. Laporan ini memberikan gambaran mengenai hasil kunjungan, karakteristik responden dan indikator fertilitas dan keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian bayi dan anak, serta pemahaman tentang HIV-AIDS. Laporan ini dapat menjadi masukan yang berarti untuk penentuan kebijakan terkait fertilitas, keluarga berencana, dan kesehatan di Indonesia.

 

KLIK UNDUH! Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Laporan Pendahuluan Indikator Utama

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja (Indikator Utama)

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 merupakan survei ke-8 yang menggambarkan kondisi demografi dan kesehatan di Indonesia. Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia tahun 1987 merupakan survei pertama. Berikutnya dilanjutkan dengan SDKI 1991, SDKI 1994, SDKI 1997, SDKI 2002-2003, SDKI 2007 dan SDKI 2012.

Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) merupakan salah satu bagian dari Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Indonesia. Program ini fokus pada peningkatan pengetahuan remaja serta pihak terkait mengenai pentingnya kesehatan reproduksi bagi kehidupan remaja. Secara khusus, program KRR ini ditujukan untuk mencegah pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak diinginkan, merokok, konsumsi alkohol, serta HIV-AIDS.

Publikasi ini berisi indikator utama KRR yang merupakan bagian dari kegiatan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Publikasi komponen KRR menjadi rangkaian publikasi SDKI sejak SDKI 2002-2003. Seperti survei sebelumnya, SDKI 2017 dilaksanakan bersama oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Kesehatan.

Publikasi ini dapat digunakan sebagai rujukan dalam mengembangkan program pelayanan kesehatan reproduksi remaja oleh berbagai sektor di seluruh Indonesia.

 

KLIK UNDUH! SDKI 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja (Indikator Utama)

Penting! 5 Hal Tentang Vaksin MR yang Perlu Diketahui

Sejak Senin (20/8/2018) fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 memberikan lampu hijau penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) dengan pertimbangan situasi mendesak. MUI menyatakan, Serum Institute of India itu haram karena proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi. Tapi, penggunaannya diperbolehkan (mubah). Pertimbangannya antara lain kondisi keterpaksaan, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, dan keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum ada vaksin yang halal.

Namun, tidak sedikit warganet yang mempertanyakan alasan ahli-ahli di Indonesia tidak membuat Vaksin MR sendiri. Menanggapi polemik itu, PT. Bio Farma selaku distributor menyampaikan penjelasan penting terkait Vaksin MR tersebut. Simak 5 hal tentang vaksin MR yang perlu diketahui berikut ini:

  1. Sampai saat ini, Bio Farma sedang mengembangkan atau melakukan riset produk Vaksin MR hasil sendiri. Bio Farma berupaya agar produk vaksin MR tersebut tidak menggunakan bahan yang berasal dari unsur haram/najis dalam prosesnya.
  2. Saat ini hanya ada satu produsen vaksin MR dari India (SII) yang sudah memenuhi syarat berdasarkan aspek keamanan, kualitas dan keampuhan produk sesuai standar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
  3. Adapun untuk mengganti salah satu komponen vaksin MR memerlukan riset dan membutuhkan waktu yang relatif lama, bisa 15 sampai dengan 20 tahun untuk menemukan vaksin dengan komponen yang baru.
  4. Kedepan Bio Farma akan berkoordinasi lebih baik dengan MUI dalam pengembangan produk vaksin baru maupun dalam produk-produk yang akan diimpor dan akan digunakan di Indonesia.
  5. Mempertimbangkan dampak penyakit campak dan rubella (MR), Bio Farma menghimbau masyarakat untuk mendukung pelaksanaan program kampanye vaksin MR dari Kementerian Kesehatan.

Selamat Idul Adha 1439 H

Segenap Tim Promkes.net mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1439 H untuk #SobatSehat muslim di seluruh penjuru tanah air.

Saat ini banyak sobat kita di Nusa Tenggara Barat sedang berduka. Luangkan waktu sejenak berbagi bantuan untuk mereka. Semoga musibah ini lekas berlalu dan NTB kembali bangkit.

Salam #MotionForHealth

Telah Terbit! Laporan Situasi Sosial Dunia (RWSS) Tahun 2018

Perlindungan sosial universal adalah alat kebijakan pembangunan yang kuat dalam mengurangi kemiskinan, ketidaksetaraan dan pengucilan sosial. Beberapa negara telah mampu mengurangi kemiskinan dan memperbaiki kondisi kehidupan dalam skala luas tanpa sistem perlindungan sosial yang komprehensif.

Konsensus komunitas internasional tentang pentingnya perlindungan sosial telah diperkuat dengan penerapan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Pada sasaran 1.3, tujuan Pembangunan Berkelanjutan menekankan peran perlindungan sosial dalam mengakhiri kemiskinan dalam semua bentuknya, karena mencari pelaksanaan “langkah-langkah perlindungan sosial dan sistem yang sesuai secara nasional untuk semua, termasuk lantai”. Pada tahun 2030, tujuannya tidak kurang dari “cakupan substansial dari orang miskin dan rentan”.

Mempromosikan Inklusi Melalui Perlindungan Sosial

Untuk mempromosikan inklusi, sistem perlindungan sosial harus peka terhadap kebutuhan kelompok-kelompok penduduk yang memiliki risiko kemiskinan tertinggi: anak-anak, remaja, orang tua, penyandang cacat, migran internasional, etnis dan ras minoritas, dan masyarakat adat.

Laporan tentang Situasi Sosial Dunia (The World Social Situation) 2018 menunjukkan bahwa masing-masing kelompok ini menghadapi hambatan khusus untuk perlindungan sosial. Selain itu, sistem perlindungan sosial inklusif harus menjamin akses ke seperangkat skema yang dibiayai pajak minimum. Ini menjelaskan mengapa skema universal lebih baik menjangkau kelompok yang kurang beruntung daripada skema yang ditargetkan pada mereka dan mempertimbangkan bagaimana program perlindungan sosial harus dilaksanakan untuk menghindari pengecualian bagi orang yang membutuhkan.

Unduh Laporan Lengkapnya DI SINI

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak

Human Immunodeficiency Virus yang selanjutnya disingkat HIV adalah virus yang menyerang sistem imun dan jika tidak diterapi dapat menurunkan daya tahan tubuh manusia hingga terjadi kondisi Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Sifilis adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.

Hepatitis Virus B yang selanjutnya disebut Hepatitis B adalah penyakit menular dalam bentuk peradangan hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.

Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B yang selanjutnya disebut Eliminasi Penularan adalah pengurangan penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak.

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk:

  1. memutus penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak;
  2. menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat HIV, Sifilis, dan Hepatitis B pada ibu dan anak; dan
  3. memberikan acuan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lain dalam penyelenggaraan Eliminasi Penularan.

Download Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak