Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak

Human Immunodeficiency Virus yang selanjutnya disingkat HIV adalah virus yang menyerang sistem imun dan jika tidak diterapi dapat menurunkan daya tahan tubuh manusia hingga terjadi kondisi Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Sifilis adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.

Hepatitis Virus B yang selanjutnya disebut Hepatitis B adalah penyakit menular dalam bentuk peradangan hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.

Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B yang selanjutnya disebut Eliminasi Penularan adalah pengurangan penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak.

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk:

  1. memutus penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak;
  2. menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat HIV, Sifilis, dan Hepatitis B pada ibu dan anak; dan
  3. memberikan acuan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lain dalam penyelenggaraan Eliminasi Penularan.

Download Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya disingkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.

Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections) yang selanjutnya disingkat HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dimana ketika masuk tidak ada infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

 

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Eradikasi Frambusia

Penyakit Frambusia, Yaws, atau Patek yang selanjutnya disebut Frambusia adalah penyakit menular langsung antar manusia yang disebabkan oleh infeksi kronis bakteri Treponema Pertenue dan pada umumnya terlihat sebagai lesi pada kulit serta dapat menyebabkan cacat pada tulang.

Penanggulangan Frambusia adalah upaya kesehatan yang ditujukan untuk memutus mata rantai penularan serta menghilangkan angka kesakitan dan kecacatan.

Eradikasi Frambusia adalah upaya pembasmian yang dilakukan secara berkelanjutan untuk menghilangkan Frambusia secara permanen sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat secara nasional.

Surveilans Frambusia adalah kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus-menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian Frambusia dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan Frambusia untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien.

Pemberian Obat Pencegahan secara Massal Frambusia yang selanjutnya disebut POPM Frambusia adalah pemberian obat yang dilakukan untuk mematikan bakteri Treponema Pertenue dan memutus mata rantai penularan secara serentak kepada penduduk sasaran di daerah endemis Frambusia.

 

Download Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Eradikasi Frambusia

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/187/2017 Tentang Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia

Pembangunan kesehatan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya. Selain itu kesehatan juga merupakan investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 16 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun-temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Masyarakat Indonesia sudah sejak zaman dahulu kala menggunakan ramuan obat tradisional Indonesia sebagai upaya pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan kesehatan. Ramuan obat tradisional Indonesia tersebut dapat berasal dari tumbuhan, hewan, dan mineral, namun umumnya yang digunakan berasal dari tumbuhan.

Perkembangan pelayanan kesehatan tradisional menggunakan ramuan ini kian pesat.  Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 bahwa persentasi penduduk Indonesia yang pernah mengonsumsi jamu sebanyak 59,12 % yang terdapat pada kelompok umur di atas 15 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, di pedesaan maupun di perkotaan, dan 95,60 % merasakan manfaatnya.

Persentase penggunaan tumbuhan obat berturut-turut adalah jahe 50,36 %, kencur 48,77 %, temulawak 39,65 %, meniran 13,93 % dan mengkudu 11,17 %. Bentuk sediaan jamu yang paling banyak disukai penduduk adalah cairan, diikuti berturut-turut seduhan/serbuk, rebusan/rajangan, dan bentuk kapsul/pil/tablet. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional 30,40%, diantaranya memilih keterampilan tanpa alat 77,80 % dan ramuan 49,00 %.

 

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat perlu memanfaatkan berbagai upaya pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan tradisional yang merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam upaya kesehatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Salah satu pendukung pemanfaatan kesehatan tradisional adalah Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia (FROTI).

FROTI disusun berdasarkan gangguan kesehatan yang umumnya ditemukan di masyarakat. Jenis gangguan tersebut antara lain kencing manis, kencing batu, sakit kepala tujuh keliling, sakit kepala sebelah, kembung, nyeri ulu hati, mencret, sembelit, mulas, sakit gigi, sakit pinggang, sakit tenggorokan, selesma.

Penggunaan ramuan dalam FROTI ini diarahkan untuk memelihara kesehatan dan membantu mengurangi keluhan penderita. Bila keluhan belum teratasi atau muncul keluhan lain, masyarakat sebaiknya tetap berkonsultasi ke tenaga medis (dokter). Untuk gangguan kesehatan yang sudah didiagnosa oleh tenaga medis (dokter), diharapkan tetap menggunakan obat yang disarankan oleh dokter.

Ramuan dalam FROTI ini digunakan sebagai pelengkap pengobatan jika digunakan bersamaan dengan pengobatan konvensional setelah dikomunikasikan terlebih dahulu kepada tenaga medis (dokter). Penggunaan ramuan secara rasional dan sesuai petunjuk pemakaian, diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan.

 

UNDUH DISINI

“Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku” Mediakom Edisi 88 – November 2017

Mediakom edisi 88 terbit di bulan November 2017. Kali ini mengangkat tema “Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku”. Terbitan ini bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional 2017. berikut ulasan informasi yang Sobat Sehat bisa nikmati :

INFO SEHAT

  • Daun Kelor yang Super
  • ‘Rambu’ Memilih dan Menggunakan Kosmetik
  • Gagal Ginjal Akut, Siapa Takut?

MEDIA UTAMA

  • Sehat keluargaku, Sehat Indonesiaku

PROFIL 

  • Menyehatkan Indonesia Lewat Tanaman Obat

LIPSUS

  • Pendidikan, Rokok, Penyakit dan Kerugian Ekonomi
  • Menkes: Lakukan Riset Dampak Rokok di Indonesia

PERISTIWA

  • Pembiayaan Penyakit Katastropik Tetap Ditanggung JKN
  • Tigapuluh Item Rekomendasi Kesehatan Haji
  • Bahaya Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Dokter

REFORMASI BIROKRASI

  • Kemenkes Lebih Maju Kelola Pengaduan Publik
  • Hasil Survey Sebut Masyarakat Puas Dengan Pelayanan Publik Kemenkes

KOLOM

  • 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK Bidang Kesehatan

 

UNDUH DISINI

 

 

 

 

Buku Saku Mudik 2017 : Bekal Informasi Mudik Lebaran

Kementerian Kesehatan RI telah meluncurkan informasi Mudik Lebaran Tahun 2017. Buku saku tersebut berisi :

  1. Surat Edaran Menteri Kesehatan
  2. Rencana Operasi Angkutan Lebaran Terpadu
  3. 15 Provinsi Prioritas Pemantauan Angkatan Jalan
  4. Fokus Kesiapsiagaan
  5. Kalender Kegiatan
  6. Rencana pemantauan Bersama Posko Mudik Bersama tahun 2017
  7. Fokus Utama Dukungan Kesehatan
  8. Penguatan SPGDT
  9. Layanan Gawat Darurat Mudik Indonesia 119
  10. Layanan Emergency 119
  11. Koordinasi Pos Layanan Kesehatan
  12. Nomor Kontak Prioritas Posko Pemantauan Angkutan Jalan
  13. Posko Kesehatan di Jalur Mudik Lebaran
  14. Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi
  15. Media Informasi Pos Pemantauan Mudik

Bisa diunduh disini ya sob #MotionForHealth

Data Fasilitas Kesehatan gabungan unduh disini

Mike dan Pesan Kesehatan untuk Kita

ike

Kematian Mike Mohade cukup mengagetkan kita (Jawa pos, 1 Agustus 2016). Penyanyi yang pernah menjadi pemenang Indonesian Idol musim ke-2 di tahun 2005 masih cukup muda. Lebih mengagetkan lagi karena berita itu cukup mendadak. Bahkan keluarga dan teman yang ditinggalkan meresa sangat terkejut dengan kejadian ini. Pihak terdekatnya mengatakan bahwa penyebab kematian mike adalah karena serangan jantung.

Penyakit jantung dan penyakit degenaratif lainnya saat ini merupakan momok baru dalam dunia kesehatan. Penyakit jantung koroner menurut Riset Kesehatan Dasar 2007 masuk dalam penyebab utama kematian.prevalensi secara nasional mencapai 7,2%, bahkan kematian akibat penyakit jantung, hipertensi dan stroke menunjukan angka yang cukup tinggi. Penyakit ini menurut riskesdas tahun 2013 paling banyak terjadi pada usia 65 hingga 74 tahun.. Penderita penyakit jantung diindonesia mulai bervariatif. Paling besar muncul pada umur 45-65 tahun yakni sebesar 41%. Tetapi yeng lebih mengejutkan adalah adanya temuan di usia 15 hingga 24 tahun. Diperkirakan penderita jantung koroner di usia 15-35 tahun mencapai 22%. Meski jumlahnya sedikit ini berarti terjadi pergeseran penyakit degenaratif yang dulunya hanya muncul pada usia senja kini mulai menyerang usia muda.

Penyakit jantung koroner, merupakan penyakit kardiovaskuler yang banyak diderita oleh manusia. Penyakit yang sangat ditakuti ini disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada arteri kororner atau pembuluh darah yang mengalirkan darah ke jantung. Ketidak lancaran aliran darah akan menyebabkan gangguan asupan zat makanan dan oksigen ke jantung. Beberapa kejadian yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner antara lain gangguan irama jantung, bahkan pada bebebrapa kejadian diketahui menyebabkan kematian mendadak.

Proses penyempitan ini tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Penyempitan bisa disebabkan oleh aterosklerosis. Arterosklerosis adalah proses pengerasan dinding arteri akibat penumpukan lemak dan kolesterol. Penyakit yang disebut penyakit degenaratif adalah suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh dari keadaan normal, atau bisa dikatakan fungsi sel tubuh menjadi lebih buruk. Proses kemunduran ini tidak terjadi secara tiba-tiba.

Penyebab dari penyakit degenaratif salah satuya adalah gaya hidup. Dengan mengetahui penyebabnya seharusnya kita bisa menggunakan ini untuk mencegahnya. Kita biasa mengenal pencegahan adalah sesuatu yang kita lakukan sebelum semuanya terjadi. Dalam pencegahan penyakit kita mengenal banyak tingkatan dalam pencegahan. Menurut Leavell dan Clark pencegahan penyakit dapat dibagi menjadi 5 tingkatan, atau biasa dikenal dengan 5 Level of Prevention. Pencegahan bisa dilakukan melalui tingkatan yang paling awal yakni Health promotion, kemudian dilanjutkan dengan tingkatan spesific protection, early diagnosis and prompt treatment, disibility limitation dan terakhir rehabilitation.

Health Promotion, pada tingkatan ini kita berusaha untuk hidup sehat dan menjaga keseimbangan tubuh sehingga mampu mengurangi kemungkinan muncul bibit penyakit. Pencegahan pada tingkat ini dilakukan ketika seseorang dalam keadaan sehat. Pencegahan ini dilakukan untuk mempertahankan seseorang agar selalu dalam keadaan sehat. Dalam tingkatan ini kita tidak mencegah suatu penyakit, tapi kita mencegah semua penyakit. Disarankan untuk tetap berolahraga dan menjaga asupan makanan serta menjaga kesehatan lingkungan. Pengetahuan yang cukup tentang kesehatan juga diperlukan untuk menjaga kita terhindar dari berbagai ancaman kesehatan.

Spesific Protection adalah tindakan unntuk mencegah penyakit tertentu. Ini yang merupakan perbedaan mendasar antara tahap ini dengan tahap sebelumnya. Pada tahap ini kita menghindari berbagai faktor resiko dari penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner yang disebabkan sebagian besar oleh masalah kardiovaskuler bisa dicegah dengan menghindari penumpukan lemak di pembuluh darah. Menghindari rokok, mengurangi makanan yang mengandung lemak dan kolesterol, serta berolahraga minimal 3 kali seminggu dengan masing-masing berdurasi minimal 15 menit adalah sebuah tindakan yang tepat dalam tahap ini dalam mencegah penyakit jantung koroner.

Early Diagnosis dan Prompt Treatment adalah tahap dimana kita melakukan tindakan tertentu untuk mengetahui munculnya penyebab penyakit. Dengan mengetahui lebih dini maka kita akan mampu merencanakan tindakan selanjutnya. Disini bisa kita lihat pencegahan bukan hanya sebelum terjadi, tetapi juga ketika mulai muncul bibit penyakit. Pemeriksaan darah dan general check up merupakan sebuah solusi yang ditawarkan pada tahap ini. Dengan lebih dulu mengetahui kandungan lemak di dalam darah maka kita mampu untuk mencegah hal ini menjadi lebih besar. Diperlukan perubahan gaya hidup, ketika di tahap ini sudah mulai ditemukan faktor resiko.

Disability limitation merupakan sebuah tindakan terapi yang dilakukan pada penderita agar penyakit yang dideritanya tidak menjadi lebih parah. Pengobatan dan perawatan oleh tenaga kesehatan merupakan tindakan yang disarankan pada tahap ini.

Rehabilitation merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk mengembalikan penderita agar mampu untuk kembali ke masyarakat dan mereka dapat hidup dan bekerja secara wajar. Tindakan ini dilakukan agar penderita tidak menjadi beban bagi orang lain. Pendidikan kesehatan juga diperlukan disini untuk memberikan pengetahuan bagi pasien dalam menjaga kesehatannya setelah sembuh.

Pencegahan sangat diperlukan dalam semua kasus penyakit. Dengan pencegahan kita bisa menghindari kita terpapar penyakit dan memungkinkan kita untuk menghindari akibat yang lebih besar baik dari sisi kesehatan, ekonomi maupun sosial.

***

Pulung Siswantara, SKM., M.Kes

Dosen dan Ketua Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku

Fakultas Kesehatan masyarakat
Universitas Airlangga

Viral! Menteri Susi: Tidak Makan Ikan, Saya ‘tenggelamkan’!

Akun resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan @kkpgoid mengunggah video sekitar 34 detik yang menampilkan himbauan Menteri Susi Pudjiastuti kepada masyarakat Indonesia agar semakin berminat mengonsumsi olahan ikan. Menurutnya, ikan adalah sumber protein yang menyehatkan.  Video ini langsung viral. Tercatat hampir 1000 kali dibagikan pengguna Twitter.

 

“Saya ingin mengkampanyekan untuk kita semua agar tambah minat dan menyenangi makan ikan karena ikan sehat dan banyak protein. Dan kita harapkankan manusia Indonesia tumbuh sehat karena banyak makan ikan,” kata menteri Susi dalam video tersebut.

Menteri yang terkenal nyentrik namun banyak prestasi sejak kemunculannya di barisan kabinet Jokowi ini menutup video dengan sentuhan kata yang menjadi ikonnya. Dengan nada bergurau ‘mengancam’, “Yang tidak makan ikan, saya ‘tenggelamkan’! “. Tentunya, langsung mendapatkan banyak respon beragam dari netizen.

“Wah ampun bu.. sambil cek stock ikan di kulkas”

Makan ikan selain bikin kenyang juga bikin sabar. Melatih menyingkirkan duri duri kehidupan. Cc: ikan bandeng. 😂

Menkes: Yang Tidak Makan Ikan, Nanti ‘Ditenggelamkan’ Bu Susi!

Suasana sore di Koridor Museum Fatahillah sore kemarin (Sabtu, 13/05/2017) tidak seperti biasanya. Ratusan ibu – ibu Himpaudi (Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia) tampak berbaris dan mengenakan baju berwarna biru muda. Mereka juga memakai atribut hiasan berbentuk ikan serta memegang miniatur bendera merah putih. Mereka menjadi peserta Festival Kuliner Ikan Nusantara yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI dan bekerjasama dengan sektor-sektor terkait. Acara ini mengusung tema “Makan Ikan Membuat Kita Semakin Sehat”. Di pinggiran lapangan Museum Fatahillah tampak berjajar stan, antara lain: Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) melayani cek kesehatan, stan konsultasi gizi dan  bermacam stan menyajikan kuliner olahan ikan yang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Masyarakat juga dapat berbelanja buah-buahan organik yang dijual oleh beberapa stan.

Festival Kuliner Ikan Nusantara 2017
Masyarakat berkunjung ke stan Festival Kuliner Ikan Indonesia di lapangan Museum Fatahillah, Jakarta, kemarin (Sabtu, 13/4/2017). Stan menyediakan informasi kesehatan, buah-buahan organik dan hasil olahan ikan. Foto: Yeni Tri Herwanto | HEALTH proMOTION | http://www.promkes.net)

“Festival Kuliner Ikan Nusantara ini diadakan selama dua hari, 13 Mei 2017 pukul 15.00 – 22.00 dan 14 Mei 2017 pukul 09.00 – 19.00” terang dr. Anung Sugihantono M.Kes, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI mewakili panitia. Acara juga dimeriahkan demo masak oleh koki, talkshow nutrisi ikan, fishopedia dan penampilan band musik.

Pembukaan Festival Kuliner Ikan Nusantara 2017
Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K) membuka Festival Kuliner Ikan Indonesia di Koridor Museum Fatahillah, Jakarta, Kemarin (Sabtu, 13/05/2017). Tampak Menkes didampingi Menkominfo Rudiantara dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, serta staf ahli dari Kementerian Kelautan & Perikanan dan Kementerian Pariwisata. (Foto: Yeni Tri Herwanto | HEALTH proMOTION | http://www.promkes.net)

Pembukaan acara ini hadir pula Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K), Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, serta staf ahli dari Kementerian Kelautan & Perikanan dan Kementerian Pariwisata. “Lautan Indonesia menghasilkan ikan yang melimpah. Ikan mengandung gizi yang tinggi. Oleh karena itu, yang tidak makan ikan, saya ‘tenggelamkan’ ” pesan dari Menteri Kelautan & Perikanan Susi Pudjiastuti dalam video yang diputar sebelum pembukaan oleh Menteri Kesehatan.

“Ibu hamil diharapkan bisa mengonsumsi makanan yang bergizi, termasuk ikan. Ikan akan memenuhi kebutuhan gizi bayi yang dikandung. Bapak-bapaknya, juga harus memberikan prioritas pemenuhan gizi anak. Karena, anak yang pintar menentukan kejayaan bangsa Indonesia di masa yang akan datang” ungkap Menteri Kesehatan Prof. Dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K). “Yang tidak makan ikan, nanti ‘ditenggelamkan’ Bu Susi ” imbuhnya menegaskan kembali pesan Menteri Kelautan & Perikanan dan disambut tepuk tangan meriah peserta.

Himpaudi menyemarakkan acara dengan Senam Gemari (Gemar Makan Ikan)  serempak. Hentakan musik penuh semangat dan gerak yang energik berhasil membuat acara semakin ceria. Mulai petang, pengunjung dihibur oleh band musik yang berhasil mengajak penonton berdendang dan bernyanyi bersama. (Yeni Tri Herwanto)

Senam Gemari - Foto Yeni Tri Herwanto
Ibu-ibu dari Himpaudi melakukan Senam Gemari (Gemar Makan Ikan) bersama di Lapangan Museum Fatahillah, Jakarta, Kemarin (Sabtu, 13/05/2017). Gerakan serempak dan energik berhasil menyemarakkan acara Festival Kuliner Ikan Nusantara. (Foto: Yeni Tri Herwanto | HEALTH proMOTION | http://www.promkes.net)

[ Informasi Kesehatan Masyarakat | Promosi Kesehatan |HEALT proMOTION | motion for HEALTH ]