Ikuti #PromkesNetLearning Edisi 1: “Iklan Rokok Hujani Remaja”

Faktanya, paparan iklan, promosi, dan sponsor rokok pada anak dan remaja berhasil mempengaruhi mereka untuk mencoba rokok. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 menunjukkan sekitar 75% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum usia 19 tahun.

🤔 Kenapa remaja yang jadi target?
🙂 Bagaimana konsep TAPS (Tobacco Advertisement, Promotion and Sponsorship)?

Hario ”Fisto” Megatsari, S.KM, M.Kes akan membahasnya dalam edisi perdana #PromkesNetLearning. Selain menjadi Dosen Minat Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku di FKM Universitas Airlangga, Fisto juga aktif dalam isu pengendalian tembakau di Indonesia.

Kelas Online via WhatsApp Group tersebut akan berlangsung pada:

Hari Jumat, 28 September 2018, pukul 20.00 – 21.30. 

Jangan sampai terlewat, tempat terbatas. Mari bergabung di kelas #PromkesNetLearning yang merupakan program terbaru dari Tim Promkes.net #MotionForHealth. #PromkesNetLearning ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dan masyarakat tentang isu-isu kesehatan.

Formulir pendaftaran bisa diakses DI SINI

Salam #MotionForHEALTH

Mendagri: Kepala Daerah Perlu Mendukung Kampanye Imunisasi MR

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo telah menerbitkan surat permintaan dukungan Kampanye dan Introduksi Imunisasi Measles Rubella (MR) Tahun 2017 dan 2018 sejak 3 April 2017. Surat tersebut ditujukan kepada bupati/walikota di seluruh daerah di Indonesia.

Isi surat tersebut antara lain untuk mendukung pencapaian eliminasi penyakit Campak dan Rubella tahun 2020, implementasi strategi nasional dalam kampanye Imunisasi MR tahun 2017 dan 2018, dan mendukung operasional kegiatan. Selain itu, Mendagri juga menghimbau bupati/walikota untuk mengadakan rapat dengan instansi terkait dengan melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), melibatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, koordinasi teknis dengan Kemenkes dan melaporkan kegiatan tersebut ke gubernur dan berikutnya gubernur ke Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri. (Y. Tri Herwanto)

Jangan Tergiur! Iklan Klinik Herbal Putih, Klinik Terapi Zona dan Klinik Tramedica Melanggar Aturan

Iklan dari penyehat/panti sehat tradisional Klinik Herbal Putih, Klinik Terapi Zona dan Klinik Tramedica dinyatakan melanggar aturan iklan kesehatan oleh Kementerian Kesehatan. Pasalnya, iklan yang biasa diakses oleh pemirsa di JakTV dan ElshintaTV tersebut terbukti melanggar beberapa peraturan. Antara lain:

Informasi selengkapnya dapat diakses dalam Pengumuman Publik No. PK.02.01/1/2941/2018 Tentang “Klinik Herbal Putih, Klinik Terapi Zona dan Klinik Tramedica Langgar Aturan Iklan Kesehatan” berikut ini.

IMG_9670

IMG_9671

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Laporan Pendahuluan Indikator Utama

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 (SDKI 2017) merupakan SDKI kedelapan yang memberikan gambaran mengenai kondisi demografi dan kesehatan di Indonesia. Survei yang pertama adalah Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia pada tahun 1987. Survei yang kedua sampai ketujuh adalah SDKI 1991, SDKI 1994, SDKI 1997, SDKI 2002-2003, SDKI 2007, dan SDKI 2012. SDKI 2017 merupakan survei yang dirancang untuk menyajikan informasi mengenai tingkat kelahiran, kematian, keluarga berencana dan kesehatan. Cakupan SDKI 2017 kali ini sama dengan SDKI 2012, yaitu seluruh wanita usia subur (WUS) umur 15-49 tahun, pria kawin umur 15-54 tahun, dan remaja pria belum kawin umur 15-24 tahun. Remaja wanita sudah tercakup dalam WUS.

SDKI 2017 bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai fertilitas, kesertaan KB, kesehatan ibu dan anak, prevalensi imunisasi, serta pengetahuan tentang HIV/AIDS dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Kegiatan lapangan dilakukan pada bulan Juli sampai dengan September 2017 di 34 provinsi. Kerangka sampel yang digunakan adalah daftar blok sensus pada PSU (Primary sampling Unit) terpilih dilengkapi dengan informasi jumlah rumah tangga hasil listing Sensus Penduduk 2010. Sampel SDKI 2017 dirancang untuk menghasilkan estimasi nasional berdasarkan karakteristik penting dari wanita usia subur umur 15-49 tahun. Namun demikian, beberapa indikator dapat disajikan menurut provinsi dengan memperhatikan kecukupan sampel.

Hasil pelaksanaan SDKI 2017 disajikan dalam bentuk laporan yang berisi indikator-indikator utama. Laporan ini memberikan gambaran mengenai hasil kunjungan, karakteristik responden dan indikator fertilitas dan keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian bayi dan anak, serta pemahaman tentang HIV-AIDS. Laporan ini dapat menjadi masukan yang berarti untuk penentuan kebijakan terkait fertilitas, keluarga berencana, dan kesehatan di Indonesia.

 

KLIK UNDUH! Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017: Laporan Pendahuluan Indikator Utama

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja (Indikator Utama)

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 merupakan survei ke-8 yang menggambarkan kondisi demografi dan kesehatan di Indonesia. Survei Prevalensi Kontrasepsi Indonesia tahun 1987 merupakan survei pertama. Berikutnya dilanjutkan dengan SDKI 1991, SDKI 1994, SDKI 1997, SDKI 2002-2003, SDKI 2007 dan SDKI 2012.

Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) merupakan salah satu bagian dari Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Indonesia. Program ini fokus pada peningkatan pengetahuan remaja serta pihak terkait mengenai pentingnya kesehatan reproduksi bagi kehidupan remaja. Secara khusus, program KRR ini ditujukan untuk mencegah pernikahan usia dini, kehamilan yang tidak diinginkan, merokok, konsumsi alkohol, serta HIV-AIDS.

Publikasi ini berisi indikator utama KRR yang merupakan bagian dari kegiatan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Publikasi komponen KRR menjadi rangkaian publikasi SDKI sejak SDKI 2002-2003. Seperti survei sebelumnya, SDKI 2017 dilaksanakan bersama oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Kesehatan.

Publikasi ini dapat digunakan sebagai rujukan dalam mengembangkan program pelayanan kesehatan reproduksi remaja oleh berbagai sektor di seluruh Indonesia.

 

KLIK UNDUH! SDKI 2017: Kesehatan Reproduksi Remaja (Indikator Utama)

Penting! 5 Hal Tentang Vaksin MR yang Perlu Diketahui

Sejak Senin (20/8/2018) fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 memberikan lampu hijau penggunaan vaksin Measles Rubella (MR) dengan pertimbangan situasi mendesak. MUI menyatakan, Serum Institute of India itu haram karena proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi. Tapi, penggunaannya diperbolehkan (mubah). Pertimbangannya antara lain kondisi keterpaksaan, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci, dan keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum ada vaksin yang halal.

Namun, tidak sedikit warganet yang mempertanyakan alasan ahli-ahli di Indonesia tidak membuat Vaksin MR sendiri. Menanggapi polemik itu, PT. Bio Farma selaku distributor menyampaikan penjelasan penting terkait Vaksin MR tersebut. Simak 5 hal tentang vaksin MR yang perlu diketahui berikut ini:

  1. Sampai saat ini, Bio Farma sedang mengembangkan atau melakukan riset produk Vaksin MR hasil sendiri. Bio Farma berupaya agar produk vaksin MR tersebut tidak menggunakan bahan yang berasal dari unsur haram/najis dalam prosesnya.
  2. Saat ini hanya ada satu produsen vaksin MR dari India (SII) yang sudah memenuhi syarat berdasarkan aspek keamanan, kualitas dan keampuhan produk sesuai standar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
  3. Adapun untuk mengganti salah satu komponen vaksin MR memerlukan riset dan membutuhkan waktu yang relatif lama, bisa 15 sampai dengan 20 tahun untuk menemukan vaksin dengan komponen yang baru.
  4. Kedepan Bio Farma akan berkoordinasi lebih baik dengan MUI dalam pengembangan produk vaksin baru maupun dalam produk-produk yang akan diimpor dan akan digunakan di Indonesia.
  5. Mempertimbangkan dampak penyakit campak dan rubella (MR), Bio Farma menghimbau masyarakat untuk mendukung pelaksanaan program kampanye vaksin MR dari Kementerian Kesehatan.

Selamat Idul Adha 1439 H

Segenap Tim Promkes.net mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1439 H untuk #SobatSehat muslim di seluruh penjuru tanah air.

Saat ini banyak sobat kita di Nusa Tenggara Barat sedang berduka. Luangkan waktu sejenak berbagi bantuan untuk mereka. Semoga musibah ini lekas berlalu dan NTB kembali bangkit.

Salam #MotionForHealth

Herd Immunity: Pilihan Kita Untuk Komunitas Kita

Pernahkah mendengar tentang herd immunity?

Situasi seperti hari ini tentunya immunity, imunitas dan imunisasi merupakan hal yang sangat hangat dan asyik untuk dibicarakan. Herd immunity merupakan suatu keadaan ketika sebagian besar masyarakat terlindungi atau dalam kondisi kebal terhadap penyakit tertentu yang akan menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yang cukup bagus yakni turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan.

Dalam sebuah keadaan sederhana hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut; ketika dalam kelompok masyarakat yang sedang terjadi risiko suatu penyakit, kita akan memberikan imunisasi atau kekebalan kepada kelompok yang rentan seperti bayi dan balita agar mereka terlindungi, keadaan ini akan membuat penularan penyakit di masyarakat pun akan terkendali sehingga kelompok usia yang lebih dewasa pun ikut terlindungi karena kemungkinan penularan penyakit menjadi lebih rendah.

Apabila kita melihat keadaan seperti itu maka kita sebenarnya bisa memperbaiki kondisi kesehatan kelompok kita dengan cara melindungi kelompok paling rentan kita melalui imunisasi. Tetapi perlu kita ingat bahwa kondisi yang sehat tersebut hanya dapat tercapai dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata pada kelompok kita.

Kekebalan komunitas atau herd imunity tentunya tidak akan pernah tercapai ketika kelompok yang rentan tidak terlindungi atau bisa dikatakan ketika cakupan imunisasi sangat rendah. Cakupan imunisasi yang tinggi tetapi juga tidak merata juga sebuah masalah yang harus dihadapi dalam imunitas kelompok.

Anak-anak yang tidak diimunisasi mungkin bisa saja sehat tetapi coba kita pikirkan dalam satu kelompok tidak ada satupun anak yang diimunisasi kemudian tiba-tiba ada penyakit yang menyebar pada keompok tersebut dan penyakit tersebut termasuk dalam kelompok Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Kita akan melihat bahwa keompok tersebut akan dengan cepoat menyebar pada kelompok tersebut. Ataupun ketika hanya sedikit yang diimunisasi dan masih banyak yang belum terimunisasi, tentunya akan banyak anak yang akan terjangkit penyakit tersebut meskipun anak yang terimunisasi akan mempunyai kemungkinan yang besar untuk sehat.

Ketika dalam sebuah kelompok sebagian besar kelompok rentan sudah diimunisasi dan ada sebagian anak yang sakit tentunya kita akan dapat melihat bahwa penyebaran sebuah penyakit tersebut akan bisa ditahan sehingga penyakit tersebut tidak akan menyebar di kelompok, dan kelompok tersebut akan tetap sehat.

Herd Immunity tentu sebuah kata yang sangat jarang sekali kita dengar atau bahkan sebuah kata yang sangat sulit untuk dilafalkan. Tapi ketika kita ingat kata “kepedulian” mungkin kata ini akan lebih familier di telinga kita. Kepedulian kita terhadap komunitas dapat diwujudkan dengan mengimunisasikan kelompok rentan seperti anak-anak dan bayi serta mendukung program imunisasi.

Dari penjelasan di atas tentu kita tahu bagaimana pilihan kita bisa berdampak kepada orang lain dan kelompok kita. Dengan memberikan imunisasi kepada anak-anak kita tentu kita akan bisa mewujudkan kelompok yang terlindungi dari penyakit.

***

Penulis: Pulung Siswantara, S.K.M., M.Kes

MUI Akhiri Kontroversi Penggunaan Vaksin MR

Bahaya Campak dan Rubella

Menurut Kementerian Kesehatan, komplikasi Campak telah membunuh lebih dari 562.000 anak per tahun di seluruh dunia pada tahun 2000. Upaya pun terus dilakukan untuk menyelamatkan generasi bangsa. Imunisasi Campak digencarkan. Alhasil, angka kasus Campak berhasil diturunkan. Tahun 2014 kematian akibat campak di dunia berhasil ditekan menjadi 115.000 per tahun, dengan perkiraan 314 anak per hari atau 13 kematian setiap jamnya.

Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh virus  melalui batuk dan bersin. Gejala penyakit ini antara lain demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau konjungtivitis akan tetapi sangat berbahaya apabila disertai dengan komplikasi pneumonia, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Rubella menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang memerlukan upaya pencegahan serius dan efektif. Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Selain itu, Studi estimasi beban penyakit CRS (Congenital Rubella Syndrome) di Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan terdapat sekitar 2.767 kasus CRS, 82/100.000 terjadi pada usia ibu 15-19 tahun dan menurun menjadi 47/100.000 pada usia ibu 40-44 tahun. Perhitungan modelling di Provinsi Jawa Timur diperkirakan sebanyak 700 bayi yang dilahirkan setiap tahun mengalami penyakit CRS.

Membentuk Herd Immunity Untuk Cegah KLB

Penyakit Campak sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk. 

Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Seseorang dapat kebal jika telah diimunisasi atau terinfeksi virus campak. Bila cakupan imunisasi masih rendah, maka peluang terjadinya kejadian luar biasa (KLB) sangat tinggi.  Jadi, memastikan imunisasi dapat diakses oleh seluruh masyarakat sangat penting. Peran aktif masyarakat sangat menentukan penciptaan kekebalan kelompok/lingkungan ini.

Perlu Kampanye MR untuk eliminasi Campak dan pengendalian Rubella/CRS (Congenital Rubella Syndrome).

Imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak. Sedangkan untuk akselerasi pengendalian Rubella/CRS maka dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum memasukkan vaksin MR ke dalam imunisasi rutin. Oleh karena itu, sejak tahun lalu kampanye pemberian imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun terus digencarkan dengan target membentuk imunitas kelompok (herd immunity) sehingga dapar mencegah (cakupan minimal 95%).

Mengakhiri pro-kontra tentang halal dan haram penggunaan vaksin MR. 

Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan keputusan mengenai vaksin Measles & Rubella (MR) ini per 20 Agustus 2018. MUI memperbolehkan (mubah) penggunaan MR melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR dari Serum Institute of India (SII). Beberapa pertimbangannya yaitu adanya kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci dan ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor : 33 Tahun 2018

Tentang

PENGGUNAAN VAKSIN MR (MEASLES RUBELLA) PRODUK DARI SII (SERUM INTITUTE OF INDIA) UNTUK IMUNISASI

Dengan bertawakal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN MR (MEASLES RUBELLA) PRODUK DARI SII (SERUM INTITUTE OF INDIA) UNTUK IMUNISASI

Pertama : Ketentuan Hukum

1. Penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram.

2. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.

3. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena :

a. Ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah)

b. Belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci

c. Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

4. Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.

Kedua : Rekomendasi

1. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.

2. Produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.

4. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

Ketiga : Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata membutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal :

08 Dzulhijjah 1439 H

20 Agustus 2018 M

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

PROF.DR.H. HASANUDDIN AF., MA

Ketua

DR.H. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Sekretaris

Referensi

  • ***
  • Y. Tri Herwanto, S.K.M., M.Kes
  • Hario Megatsari, S.K.M., M.Kes
  • Bagaimana Pendapat Imam Besar Masjid Istiqlal tentang Imunisasi MR?

    Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA mendukung program Imunisasi Measles dan Rubella (MR).

    Imunisasi adalah ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan yang diperbolehkan dalam Islam. Pastikan anak anda diimunisasi.

    Sumber: Kemenkes RI