Blog

Herd Immunity: Pilihan Kita Untuk Komunitas Kita

Pernahkah mendengar tentang herd immunity?

Situasi seperti hari ini tentunya immunity, imunitas dan imunisasi merupakan hal yang sangat hangat dan asyik untuk dibicarakan. Herd immunity merupakan suatu keadaan ketika sebagian besar masyarakat terlindungi atau dalam kondisi kebal terhadap penyakit tertentu yang akan menimbulkan dampak tidak langsung (indirect effect) yang cukup bagus yakni turut terlindunginya kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit yang bersangkutan.

Dalam sebuah keadaan sederhana hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut; ketika dalam kelompok masyarakat yang sedang terjadi risiko suatu penyakit, kita akan memberikan imunisasi atau kekebalan kepada kelompok yang rentan seperti bayi dan balita agar mereka terlindungi, keadaan ini akan membuat penularan penyakit di masyarakat pun akan terkendali sehingga kelompok usia yang lebih dewasa pun ikut terlindungi karena kemungkinan penularan penyakit menjadi lebih rendah.

Apabila kita melihat keadaan seperti itu maka kita sebenarnya bisa memperbaiki kondisi kesehatan kelompok kita dengan cara melindungi kelompok paling rentan kita melalui imunisasi. Tetapi perlu kita ingat bahwa kondisi yang sehat tersebut hanya dapat tercapai dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata pada kelompok kita.

Kekebalan komunitas atau herd imunity tentunya tidak akan pernah tercapai ketika kelompok yang rentan tidak terlindungi atau bisa dikatakan ketika cakupan imunisasi sangat rendah. Cakupan imunisasi yang tinggi tetapi juga tidak merata juga sebuah masalah yang harus dihadapi dalam imunitas kelompok.

Anak-anak yang tidak diimunisasi mungkin bisa saja sehat tetapi coba kita pikirkan dalam satu kelompok tidak ada satupun anak yang diimunisasi kemudian tiba-tiba ada penyakit yang menyebar pada keompok tersebut dan penyakit tersebut termasuk dalam kelompok Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Kita akan melihat bahwa keompok tersebut akan dengan cepoat menyebar pada kelompok tersebut. Ataupun ketika hanya sedikit yang diimunisasi dan masih banyak yang belum terimunisasi, tentunya akan banyak anak yang akan terjangkit penyakit tersebut meskipun anak yang terimunisasi akan mempunyai kemungkinan yang besar untuk sehat.

Ketika dalam sebuah kelompok sebagian besar kelompok rentan sudah diimunisasi dan ada sebagian anak yang sakit tentunya kita akan dapat melihat bahwa penyebaran sebuah penyakit tersebut akan bisa ditahan sehingga penyakit tersebut tidak akan menyebar di kelompok, dan kelompok tersebut akan tetap sehat.

Herd Immunity tentu sebuah kata yang sangat jarang sekali kita dengar atau bahkan sebuah kata yang sangat sulit untuk dilafalkan. Tapi ketika kita ingat kata “kepedulian” mungkin kata ini akan lebih familier di telinga kita. Kepedulian kita terhadap komunitas dapat diwujudkan dengan mengimunisasikan kelompok rentan seperti anak-anak dan bayi serta mendukung program imunisasi.

Dari penjelasan di atas tentu kita tahu bagaimana pilihan kita bisa berdampak kepada orang lain dan kelompok kita. Dengan memberikan imunisasi kepada anak-anak kita tentu kita akan bisa mewujudkan kelompok yang terlindungi dari penyakit.

***

Penulis: Pulung Siswantara, S.K.M., M.Kes

MUI Akhiri Kontroversi Penggunaan Vaksin MR

Bahaya Campak dan Rubella

Menurut Kementerian Kesehatan, komplikasi Campak telah membunuh lebih dari 562.000 anak per tahun di seluruh dunia pada tahun 2000. Upaya pun terus dilakukan untuk menyelamatkan generasi bangsa. Imunisasi Campak digencarkan. Alhasil, angka kasus Campak berhasil diturunkan. Tahun 2014 kematian akibat campak di dunia berhasil ditekan menjadi 115.000 per tahun, dengan perkiraan 314 anak per hari atau 13 kematian setiap jamnya.

Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular yang disebabkan oleh virus  melalui batuk dan bersin. Gejala penyakit ini antara lain demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau konjungtivitis akan tetapi sangat berbahaya apabila disertai dengan komplikasi pneumonia, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Rubella menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang memerlukan upaya pencegahan serius dan efektif. Data surveilans selama lima tahun terakhir menunjukan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Selain itu, Studi estimasi beban penyakit CRS (Congenital Rubella Syndrome) di Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan terdapat sekitar 2.767 kasus CRS, 82/100.000 terjadi pada usia ibu 15-19 tahun dan menurun menjadi 47/100.000 pada usia ibu 40-44 tahun. Perhitungan modelling di Provinsi Jawa Timur diperkirakan sebanyak 700 bayi yang dilahirkan setiap tahun mengalami penyakit CRS.

Membentuk Herd Immunity Untuk Cegah KLB

Penyakit Campak sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk. 

Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Seseorang dapat kebal jika telah diimunisasi atau terinfeksi virus campak. Bila cakupan imunisasi masih rendah, maka peluang terjadinya kejadian luar biasa (KLB) sangat tinggi.  Jadi, memastikan imunisasi dapat diakses oleh seluruh masyarakat sangat penting. Peran aktif masyarakat sangat menentukan penciptaan kekebalan kelompok/lingkungan ini.

Perlu Kampanye MR untuk eliminasi Campak dan pengendalian Rubella/CRS (Congenital Rubella Syndrome).

Imunisasi campak rutin saja belum cukup untuk mencapai target eliminasi campak. Sedangkan untuk akselerasi pengendalian Rubella/CRS maka dilakukan kampanye imunisasi tambahan sebelum memasukkan vaksin MR ke dalam imunisasi rutin. Oleh karena itu, sejak tahun lalu kampanye pemberian imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan <15 tahun terus digencarkan dengan target membentuk imunitas kelompok (herd immunity) sehingga dapar mencegah (cakupan minimal 95%).

Mengakhiri pro-kontra tentang halal dan haram penggunaan vaksin MR. 

Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan keputusan mengenai vaksin Measles & Rubella (MR) ini per 20 Agustus 2018. MUI memperbolehkan (mubah) penggunaan MR melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR dari Serum Institute of India (SII). Beberapa pertimbangannya yaitu adanya kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah), belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci dan ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor : 33 Tahun 2018

Tentang

PENGGUNAAN VAKSIN MR (MEASLES RUBELLA) PRODUK DARI SII (SERUM INTITUTE OF INDIA) UNTUK IMUNISASI

Dengan bertawakal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN MR (MEASLES RUBELLA) PRODUK DARI SII (SERUM INTITUTE OF INDIA) UNTUK IMUNISASI

Pertama : Ketentuan Hukum

1. Penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram.

2. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi.

3. Penggunaan Vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII), pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena :

a. Ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah)

b. Belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci

c. Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

4. Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci.

Kedua : Rekomendasi

1. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat.

2. Produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Pemerintah harus menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panduan dalam imunisasi dan pengobatan.

4. Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang suci dan halal.

Ketiga : Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata membutuhkan perbaikan, akan diperbaiki dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, menghimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal :

08 Dzulhijjah 1439 H

20 Agustus 2018 M

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

PROF.DR.H. HASANUDDIN AF., MA

Ketua

DR.H. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA

Sekretaris

Referensi

  • ***
  • Y. Tri Herwanto, S.K.M., M.Kes
  • Hario Megatsari, S.K.M., M.Kes
  • Bagaimana Pendapat Imam Besar Masjid Istiqlal tentang Imunisasi MR?

    Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA mendukung program Imunisasi Measles dan Rubella (MR).

    Imunisasi adalah ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan yang diperbolehkan dalam Islam. Pastikan anak anda diimunisasi.

    Sumber: Kemenkes RI

    Telah Terbit! Laporan Situasi Sosial Dunia (RWSS) Tahun 2018

    Perlindungan sosial universal adalah alat kebijakan pembangunan yang kuat dalam mengurangi kemiskinan, ketidaksetaraan dan pengucilan sosial. Beberapa negara telah mampu mengurangi kemiskinan dan memperbaiki kondisi kehidupan dalam skala luas tanpa sistem perlindungan sosial yang komprehensif.

    Konsensus komunitas internasional tentang pentingnya perlindungan sosial telah diperkuat dengan penerapan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Pada sasaran 1.3, tujuan Pembangunan Berkelanjutan menekankan peran perlindungan sosial dalam mengakhiri kemiskinan dalam semua bentuknya, karena mencari pelaksanaan “langkah-langkah perlindungan sosial dan sistem yang sesuai secara nasional untuk semua, termasuk lantai”. Pada tahun 2030, tujuannya tidak kurang dari “cakupan substansial dari orang miskin dan rentan”.

    Mempromosikan Inklusi Melalui Perlindungan Sosial

    Untuk mempromosikan inklusi, sistem perlindungan sosial harus peka terhadap kebutuhan kelompok-kelompok penduduk yang memiliki risiko kemiskinan tertinggi: anak-anak, remaja, orang tua, penyandang cacat, migran internasional, etnis dan ras minoritas, dan masyarakat adat.

    Laporan tentang Situasi Sosial Dunia (The World Social Situation) 2018 menunjukkan bahwa masing-masing kelompok ini menghadapi hambatan khusus untuk perlindungan sosial. Selain itu, sistem perlindungan sosial inklusif harus menjamin akses ke seperangkat skema yang dibiayai pajak minimum. Ini menjelaskan mengapa skema universal lebih baik menjangkau kelompok yang kurang beruntung daripada skema yang ditargetkan pada mereka dan mempertimbangkan bagaimana program perlindungan sosial harus dilaksanakan untuk menghindari pengecualian bagi orang yang membutuhkan.

    Unduh Laporan Lengkapnya DI SINI

    Mengupas Cinta Terencana Demi Keluarga Berkualitas

    Harta yang paling berharga adalah keluarga

    Istana yang paling indah adalah keluarga

    Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

    Mutiara tiada tara adalah keluarga

    Bagi generasi 80’s & 90’s, sebait lirik dari soundtrack sinetron “Keluarga Cemara” yang dinyanyikan oleh Novia Kolopaking tersebut pasti memiliki posisi tersendiri di ruang kenangan. Tayangan layar kaca yang diangkat dari buku karangan Arswendo Notowiloto tersebut memang cukup sukses meraup jutaan pasang mata keluarga di Indonesia. Kisah kehidupan keluarga dan interaksi bersama lingkungan sekitar dibungkus dengan baik dengan latar belakang sosial budaya di negeri ini. Setiap episode selalu ditunggu penonton setianya.

    Keluarga adalah harta yang paling berharga. Tidak hanya bagi anggota keluarga itu sendiri, namun untuk masyarakat maupun negara. Keluarga berkualitas akan melahirkan generasi berdaya saing tinggi yang potensial membawa kesuksesan pembangunan bangsa. Namun, jika tidak terencana dengan baik, niscaya anggota keluarga tidak akur maka tidak akan makmur.

    Hari ini, BKKBN mengadakan meet-up bersama komunitas blogger yang mengusung tema “Membangun Keluarga dengan Cinta Terencana”. Kegiatan ini merupakan rangkaian memperingati Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada 29 Juni 2018. Salah satu narasumbernya yaitu Eka Sulistya Ediningsih yang saat ini menjabat sebagai Direktur Bina Ketahanan Remaja BKKBN. Ibu yang sangat murah senyum ini berbagi informasi tentang cinta terencana dalam membangun keluarga berkualitas.
    04c92d8b-e142-45dc-b795-10bcd11af9ba

    Acara yang meriah dan peserta pun antusias. Lini masa Twitter dipenuhi tagar #CintaKeluarga #CintaTerencana #HariKeluarga. Siang-sore tadi, tagar #CintaKeluarga berhasil nangkring manis di barisan teratas trending topic Twitter. Berikut beberapa cuitan dari sobat blogger peserta meet-up.

    (Y. Tri Herwanto @dhekthree | Promkes.net)

    Workshop Public Health Leadership 2018

    Public Health Leadership (PHL) hadir kembali. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Provinsi Jawa Timur ini bakal membawa konsep yang lebih menarik. Kali ini mengusung tema “Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Masyarakat Menuju Optimalisasi Implementasi Program Indonesia Sehat. PHL2018 merupakan kerjasama Pengda Persakmi Jawa Timur dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

     

    👥 Narasumber 👥

    • Seminar Panel :
      • “Peningkatan Kualitas Tenaga Kesehatan Masyarakat di Indonesia” bersama  Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, S.KM., M.Kes., M.Sc., P.H (Ketua Umum Pengurus Pusat PERSAKMI | Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin)
      • “Pengembangan Profesi Ahli Kesehatan Masyarakat” bersama Hanifa Maher Denny, S.KM., M.PH., Ph.D (Ketua Dewan Pakar Persakmi | Dekan FKM Universitas Diponegoro)

     

    • Topik Class-Workshop :
      • “Akreditasi Bukan Hanya Sertifikasi (Akreditasi Puskesmas & RS dan Mengenali Tanda-Tanda Puskesmas Sakit)” bersama Rachmat A. Pua Geno, S.KM., M.Kes (RS Muhammadiyah Lamongan | Sekretaris Jendral PERSAKMI) dan Estiningtyas Nugraheni, S.KM, M.ARS (Ahli Manajemen Rumah Sakit | Persakmi Jatim)
      • “Pemanfaatan Survey Kesehatan untuk Perencanaan dan Policy Brief” bersama Dr., drh, Didik Budijanto, M.Kes (Kepala PUSDATIN) dan Agung Dwi Laksono, S.KM, M.Kes (Litbangkes Kemenkes RI | Persakmi Jatim)
      • “Penurunan AKI / AKB sebagai Wujud Optimalisasi Program Indonesia Sehat” bersama Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si (Dosen Gizi FKM UNAIR)
      • “Tips & Trik Menjadi Health Promotor Zaman Now” bersama Y. Tri Herwanto S.KM.,M.Kes (Tim Public Health 2.0 Indonesia – Persakmi | Promotor Kesehatan – Promkes.net)

    IMG_2368

     

    Tanggal dan Tempat Kegiatan

    📆 : Sabtu, 21 April 2018

    🏢 : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Aula B2, lantai 3

    🕝 : 08.00 s.d. Selesai

     

    Dapatkan! 📒 Ilmu yang bermanfaat | 👤Relasi | 📄 Sertifikat SKP | 🛍 Seminar Kit | 🍴Snack & lunch | 📷 Photo Booth

     

    ✈️ Bagaimana Cara Daftarnya Sob?🤳

    1. Transfer pembayaran dulu ya di 0017433997 (Bank Jatim) a.n Persakmi Jatim
    2. Isi Formulir Pendaftaran DI SINI. Isi dengan benar sesuai data diri anda.
    3. Khusus untuk *MAHASISWA* hanya dapat memilih tema terakhir yaitu “Tips dan Trick menjadi Health Promotor Zaman Now”. Non mahasiswa juga boleh mengikuti kelas Health Promotor Zaman Now
    4. Jangan lupa klik *SUBMIT* ya

     

    📞 Informasi lebih lanjut bisa menghubungi narahubung panitia :

    • Instagram: @phl2018
    • Email: persakmijatim@gmail.com
    • Narahubung: 📞 Krisna : 089602923656 | 📞 Lutfi fajar : 085785125455 (Whatsapp only)

     

    SAMPAI JUMPA!

    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak

    Human Immunodeficiency Virus yang selanjutnya disingkat HIV adalah virus yang menyerang sistem imun dan jika tidak diterapi dapat menurunkan daya tahan tubuh manusia hingga terjadi kondisi Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

    Sifilis adalah salah satu jenis infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum.

    Hepatitis Virus B yang selanjutnya disebut Hepatitis B adalah penyakit menular dalam bentuk peradangan hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.

    Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B yang selanjutnya disebut Eliminasi Penularan adalah pengurangan penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak.

    Peraturan Menteri ini bertujuan untuk:

    1. memutus penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak;
    2. menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat HIV, Sifilis, dan Hepatitis B pada ibu dan anak; dan
    3. memberikan acuan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lain dalam penyelenggaraan Eliminasi Penularan.

    Download Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak

    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

    Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang selanjutnya disingkat PPI adalah upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan.

    Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (Health Care Associated Infections) yang selanjutnya disingkat HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dimana ketika masuk tidak ada infeksi dan tidak dalam masa inkubasi, termasuk infeksi dalam rumah sakit tapi muncul setelah pasien pulang, juga infeksi karena pekerjaan pada petugas rumah sakit dan tenaga kesehatan terkait proses pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

    Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.