8 Mei – Hari Thalassaemia Sedunia

Thalassaemia adalah penyakit keturunan dengan gejala utama pucat, perut tampak membesar karena pembengkakakan limpa dan hati, dan apabila tidak diobati dengan baik akan terjadi perubahan bentuk tulang muka dan warna kulit menjadi menghitam. Penyebab penyakit ini adalah kekurangan salah satu zat pembentuk Hemoglobin (Hb) sehingga produksi hemoglobin berkurang.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1994 menunjukkan bahwa jumlah carrier atau orang yang mempunyai gen pembawa Thalassaemia di seluruh dunia mencapai 4,5%, yaitu sekitar 250 juta orang. Menurut WHO, jumlah kasus Thalassaemia cenderung meningkat.

Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang berisiko Tinggi Thalassaemia. Prevalensi Thalassaemia bawaan atau carrier di Indonesia adalah sekitar 3-8%. Jika persentase Thalassaemia mencapai 5%, dengan angka kelahiran 23 per 1.000 dari 240 juta penduduk, maka diperkirakan ada sekitar 3.000 bayi penderita Thalassaemia yang lahir di Indonesia setiap tahunnya. Hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas tahun 2007, menunjukkan bahwa prevalensi nasional Thalassaemia adalah 0,1 ‰. Ada 8 propinsi yang menunjukkan prevalensi Thalassaemia lebih tinggi dari prevalensi nasional, yaitu, Aceh: 13,4‰, Jakarta: 12,3‰, Sumatera Selatan: 5,4‰, Gorontalo: 3,1‰, dan Kepulauan Riau: 3‰.

Setiap tahun, sekitar 300 ribu anak dengan Thalassaemia akan dilahirkan dan sekitar 60-70 ribu di antaranya adalah penderita  dari jenis  beta-thalasemia mayor. Penderita beta-thalasemia mayormemerlukan transfusi darah sepanjang hidupnya.

Thalassaemia bukanlah penyakit menular melainkan penyakit yang dapat diturunkan. Cara penurunan thalasemia dibagi dalam tiga jenis. Jenis pertama adalah Thalassaemia trait (Thalassaemia minor). Keadaan ini terjadi pada orang yang sehat, namun ia dapat menurunkan gen Thalassaemia pada anaknya. Jenis kedua adalah Thalassaemia mayor. Keadaan ini terjadi bila kedua orangtua mempunyai pembawa sifat thalasemia dan penderitanya akan memerlukan transfusi darah secara berkala seumur hidupnya. Jenis ketiga adalah Thalassaemia intermedia yang merupakan kondisi antara Thalassaemia mayor dan minor. Penderita thalasaemia intermedia mungkin memerlukan transfusi darah secara berkala dan dapat bertahan hidup sampai dewasa.

Penjelasan tentang Thalassaemia dapat Sobat Sehat saksikan dalam tayangan berikut ini :

 

***

Sumber : Thalassaemia.org, Yayasan Thalassaemia Indonesia, Sehat Negeriku

[ Informasi Kesehatan Masyarakat | Media Promosi Kesehatan | motion for HEALTH ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s